This Incredible Journey.. (short story)




Hai, namaku Maryam Nusaibah Abdullah. Nama yang cukup bagus bukan ? hehe terkesan maksa. Tapi filosofi nama ini diambil dari kisah seorang wanita yang sangat kuat dan tak gentar dalam menjalani hidup. Wanita yang sangat mulia hingga namanya termasuk salah satu nama wanita yang diabadikan dalam Al-Qur’an dalam surah Maryam surat ke 19. Yups Maryam sang ibunda dari Nabi Isa yang tak belum bekeluarga dan bukan pula pezina karna ia sangat menjaga dirinya. Jika demikian mengapa hal itu bisa terjadi ? jawabannya kuasa Ilahi. Ini adalah rahmat dari Allah SWT yang mengirimkannya satu bocah kecil untuk menemani hidupnya. Dia adalah satu-satunya dzat yang menjadikan suatu hal tidak mungkin dan bahkan tidak terjangkau oleh akal menjadi mungkin.
Aku dilahirkan dari keluarga yang sangat sayang padaku. Jadi aku tak pernah menuntut hal banyak karna cukup berkumpul dengan mereka saja sudah membuat aku merasa bahwa hidupku jauh lebih indah dibandingkan kehiidupan orang lain. Tetapi kenyataan sebenarnya berbalik. untuk menyatukan semua keluarga seutuhnya itu sangat sulit. Kadang aku heran mengapa harus ada 2 kehidupan? Disana dan disini. Mengapa tidak disini atau disana saja. Sekarang yang menjadi misiku kedepannya adalah menyatukan semuanya menjadi di sini saja.

Terlepas dari masalah keluarga yang terpisah-pisah tetapi aku mensyukuri semuanya. Dengan keluarga yang siap menjadi bahu ketika aku sedih, menjadi penerang jalanku ketika aku sudah merasa bahwa dunia ini sudah gelap dan menjadi kompas saatku kehilangan arah. Juga keluargaku yang jauh disana yang siap memelukku melalui do’a mereka. Aku dikirim oleh Tuhan untuk berada di tengah jiwa-jiwa yang amat sangat peduli, mengerti dan memahami kekurangan bahkan kelebihanku. Selalu ada dikala ku suka atau duka di setiap tangisan dan juga tertawa. Selalu ada di kala ku jatuh di setiap bangunku selalu menemani tanpa ada rasa jenuh. Yups, sahabat. Merekalah yang selalu menemaniku mendengar kisah pahit manis hidupku. Mereka yang selalu membersamai perjalan hidup ini.

Saat ini, aku duduk di bangku SMA kelas XII. Fiuuh!! Masa-masa perang di mulai. Masa-masa dimana waktu tak boleh sama sekali berjalan karna aku tau semua sama dengan diriku pernah berharap agar waktu ini tak berlalu. Detik-detik tirai akan menutup panggung skenario. Dan skenario baru mulai di usung oleh pena yang siap untuk menggoreskan tinta di dalamnya. Masa jaya putih abu-abu akan selalu terkenang sampai kapanpun. Saat itu aku ingin memiliki mesin waktu dan menjadi orang yang paling handal di dalamnya karna aku bisa merekam setiap kejadian saat aku melangkah bersama sahabat-sahabatku. Dan aku bisa memutarnya kapanpun aku mau. Walau sebenarnya aku sadar bahwa hal yang paling jauh dan transportasi apapun tak akan pernah bisa menjangkaunya adalah masa lalu.

Aku merupakan sosok perempuan yang cukup aktif (dalam hal berbicara pun aku sangat aktif *gubrak*) tapi itu hanya pada saat tertentu kok adakalanya aku kalem hehe. Dari SMP aku selalu aktif menjadi anggota OSIS dan selalu menjadi Sekretaris Umum (terkesan monoton memang) karna aku merasa bahwa diriku belum siap untuk naik pangkat menjadi ketua. Aku belum percaya kepada diriku sendiri. Memimpin diri sendiri saja belum becus malah mau mimpin orang lain apalagi dalam jumlah besar haddeehh. Yaa aku termasuk orang yang bisa dikatakan aku belum becus,mengapa? Aku ini mendapat predikat sebagai Ms. Telat *jlebb* predikat itu membuatku menelan ludah dan rasanya sudah tak ada ludah dalam mulutku karna sudah tertelan semua hehe *silly*. Tak hanya kawan-kawanku yang menyandangkanku predikat itu tapi semua guru sudah paham akan kebiasaanku yang suka telat dan tidak disiplin waktu. Jadi terkesan 1 sekolah sudah tau (waahh bahaya bukan?). tapi tenang, ada kabar bahagia untukku. Yaitu ada beberapa orang yang belum tau jika aku menyandang predikayt itu. Siapa mereka ? yuppss guru-guru baru yeaaayyy. Meski pada akhirnya juga mereka semua akan tau (nampaknya tak ada yang memihak padaku, help me !!!). menjadi Ms. Telat itu ada sisi positifnya juga loh. Yang pertama aku menjadi terkenal (yah terkenal telatnya *jleb!) dan aku selalu menjadi sorotan layaknya model yang sedang berjalan di catwalk (kenapa harus ada “cat” nya cobak, udah tau aku phobia sama kucing). Eh menjadi sorotan karna telatnya dan itu nampaknya bukan sisi positif hehe. Tapi entah apa yang membuatku selalu lolos jika kepala sekolah menghukum para siswa-siswi yang telat. Dari aku mulai menginjakkan kaki pertama memasuki gerbang sekolah sampai saat ini dimana aku akan menginjakkan kaki keluar gerbang sekolah, aku tak pernah sama sekali merasakan hukuman. Padahal aku datang tepat pada saat kepsek mengontrol tapi beliau sama sekali tak menegur atau memanggilku. Memang, aku ini terkenal sebagai anak kesayangan kepsek (waahh nanmpaknya aku ini banyak terkenalnya). Teringat pada suatu kejadian..

Pagi itu ketika aku bangun tidur, aku sudah memantapkan hati untuk berubah. Aku sudah mengatur scedhule harianku (meski hanya berlaku max 1 minggu). aku bangun pagi sekali, membuka jendela kamar, memandang langit yang masih bergelimangan bintang-bintang yang sangat cantik dengan kemantapan hati bahwa aku harus berubah menjadi makhluk yang ON TIME. Aku memulai aktifitas pagiku mulai dari sholat, mengaji, membereskan rumah dan sarapan pagi. Aku lihat jam di dinding, masih pukul 05:30. Aku senang sekali karna waktu masih lama dan aku bisa santai tanpa harus terburu-buru. Aku memutuskan untuk membaca buku sebentar sambil menunggu waktu untuk mandi dan bersiap ke sekolah. Hobiku memang membaca jadi aku selalu menghabiskan waktu luangku dengan membaca. dan semua keluargaku tau itu. Jadi jika mereka bepergian dan melihat buku, mereka selalu menyisihkan uangnya untuk membelikanku buku. Jadi bisa dibilang memang dalam rak bukuku mayoritas semua dibelikan bukan membeli (terkesan gak modal banget yaa *Oh No). Kulihat lagi jam di dinding “aah masih jam 6 kurang 15, nanti ajalah mandinya jam 6”. Besitku dalam hati. Aku selalu menunda-nunda waktu. Lebih tepatnya begitu. Tapi penundaan itu ada karna letak sekolahku amat sangat dengan dengan rumahku. Bisa dibilang hanya 50 meteranlah atau mungkin lebih (lebihnya juga paling 10 kebawah). Dan setelah ku lihat dinding lagi, tepat sekali yaa tepat jam 6. Aku langsung bergegas mandi, dan langsung mendirikan solat dhuha. Walaupun hukumnya sunnah, sholat dhuha sudah menjadi kewajiban tersendiri dalam hidupku. Solat dhuha adalah caraku bersedekah kepada Allah atas nikmat nafas ynag dapat kuhembuskan setiap harinya. Setelah itu aku lihat dinding lagi, waktu menunjukkan jam 06:35, perfectly!. Dengan keyakinan aku tidak akan telat hari itu. Dannn.... OH MY GOD ternyata Tuhan berkehendak lain, seragam sekolahku lupa ku setrika. Karna kemarin merupakan hari ulang tahunku jadi seragamku penuh dengan noda yang diberikan oleh teman-temanku. Dengan perasaan panik aku langsung menyiapkan setrika tetapi aku tak menemukan benda itu di sudut manapun rumah. Aku bertanya kepada setiap orang di rumahku yang kutemui. Tak satupun yang tau. Aku sangat ragu untuk bertanya kepada adik sepupuuku yang masih berumur 3 tahun tapi akhirnya kutanyakan. Ternyata dia yang menyembunyikannya di bawah ranjang tempat tidurku (aaaahhh manusia kecil ini ....). setelah mengambil di kolong ranjang, aku langsung mulai menyetrika dan ku lihat jam dan... 06.50. aku mempercepat gerak tanganku untuk menyetrikanya. Tapi dasar suatu pekerjaan yang dilakukan secara tergesa-gesa akan membawa dampak buruk. Yah, tanganku terkena panasnya setrika hingga memberi identitas warna hitam di lenganku (ngenes sekali memang). Selesainya, aku langsung bersiap-siap, memakai sepatu dan mengambil tas. Hp selalu kubiarkan berada di atas laci karna aku pikir gak ada gunanya bawa ghp ke sekolah hanya ngerusak konsentrasi saja. Toh kalau pelajaran yang membutuhkan hitung-menghitung aku punya kalkulator. Aku berangkat berpamitan dan mencium tangan semua keluargaku dengan terburu-buru. Mereka memang hafal sekali setiap berangkat sekolah aku pasti terburu-buru. Tak heran aku selalu menjadi lelucon di mata mereka padahal ini kan bukan lelucon, aku tersiksa (hiks..hiks). sesampainya di gerbang sekolah, aku lihat suasana sudah sangat sepi. Guru-guru sudah mulai menerangkan pelajaran di setiap masing-masing kelas. Aku berjalan menuju ruang kelasku dan ku lihat kepsek sedang berdiri tepat di tengah-tengah halaman sekolah. Aku hanya tersenyum kepada beliau tanpa bermaksud untuk mencium tangannya karna aku memiliki wudlu’ dan beliaupun pasti juga. Karna beliau selalu berpesan agar setiap siswa mampu menjaga wudlu’nya. Dan kulihat lagi nampaknya tak ada niat beliau untuk menegur bahkan menghukumku karna aku telat. Beliau hanya membalas senyum dan sapaanku lalu membiarkanku untu perdi. Dan.. setelah aku membuka pintu kelas, teman-temanku memang sudah memantauku dari jauh memastikan bahwa aku gak bakalan kena hukuman. Kudengar salah satu temanku bilang, “eh liat deh, itu” sambil menunjuk keluar. Dan kami semua melihat melalui jendela. Disana ada kepsek yang sedang menghukum teman sekelasku yang juga telat. Padahal selisih kedatanganku dengannya hanya mungkin 3 menit dan intinya kami sama-sama telat. Kejadian semacam itu selalu terulang dalam hari-hariku yaitu bebas hukuman telat. Jadi teman-temanku kalau mau dateng telat, selalu sms aku, minta masuk bareng dari gerbang karna dianggap kalau ada aku, merekapun akan bebas hukuman. Dan itu terbukti.  Tetapi aku tak sepenuhnya terbebas dari hukuman. Masih ada guru bahasa Indonesia yang selalu senang untuk menghukum murid-muridnya yang berangkat telat. Hukumannya adalah menyanyi. Dan aku selalu mendapatkan hukuman itu. Aku sama sekali gak merasa tertekan dengan hukumannya karna pada dasarnya aku suka menyanyi. Sampai-sampai kalau mau berangkat sekolah pada jadwal bahasa Indonesia, aku selalu memikirkan lagu apa yang akan kunyanyikan nanti (hehe konyol sekali bukan ?). ditambah lagi guruku yang selalu bilang “maryam, besok-besok telat lagi yaa biar bisa nyanyi”. Perintah ibu guru.

Tak hanya terkenal dengan nama Ms.Telat, aku juga terkenal sebagai siswa yang cerdas (ini mereka loh yang bilang ups aku yaa yang nulis). Ini semua karena mulai dari SD sampai SMA sekarang ini, aku selalu mendapatkan peringkat pertama. Tapi aku sendiri tak merasa bahwa aku ini termasuk orang yang cerdas. Aku hanya belajar semampuku. Ini sebabnya aku selalu ingin mengenyam pendidikan di luar daerahku. Dan aku bermimpi ketika aku lulus nanti, aku bisa kuliah di luar pulau ini. Karena apa gunanya kita hebat hanya di daerah kita. Aku ingin berkompetisi di luar. Dari situlah aku bisa mengukur kemampuanku.

Selain aktif dalam organisasi osis, aku juga aktif mengikuti kegiatan pramuka (tapi aktifnya kalau mau ada kemah saja hehe). Sebenarnya aku bukan siswi yang ikut DKR tapi aku selalu dipilih untuk mengikuti event seperti Jambore Nasional dll. Teman-teman juga menjuluki super sibuk (julukan terus nampaknya *fiuuhh). Yaa aktifitas harianku yang super duper padat. Pagi sampai siang sekolah, siang sampai sore harus mengajar di sebuah Madrasah Diniyah. Ba’da Maghrib harus stand by di Langgar rumah untuk mengajar ngaji membantu omku karna anak-anaknya yang kian hari kian bertambah jumlahnya. Dan malam, saatnya belajar dan istirahat sampai besok pagi dan kegiatan itu selalu sama setiap harinya. hari Jum’at memang pulang awal, dan madrasah libur. Yeayy bisa istirahat dong? Tidak. Aku harus mengajar les bahasa inggris di sebuah SD. Guru biologiku yang juga sebagai kepsek SD, menyuruhku untuk menyalurkan ilmu yang aku punya kepada murid-muridnya. Aku mengajar les dari jam 14:00 sampai 15:30 selepas itu, aku harus berangkat lagi untuk les bahasa inggris untuk diriku sendiri di sekolah sampai adzan maghrib berkumandang. Baru deh pulang, setibanya di rumah, anak-anak pengajian sudah menanti. Aaaahhh i feel stressful actually. Bagaimana dengan hari libur yaitu Sunday ? it’s the same! *fiuuhh. Jadi aku adalah salah satu orang yang sangat bahagia dan selalu menantikan kata Holiday hehe. Aku juga terpilih dari sekian banyak siswa yang mendaftar untuk mendapatkan scolarship learning english yang dibiayai langsung oleh orang-orang Amerika. Dan tahukah kau ? aku dipilih sebagai siswi yang memberikan sambutan kepada orang-orang Amerika sana pada acara graduation day. Wow, that’s unexpectable feeling ! mungkin karena hobiku berbicara (bukan berarti cerewet ya). Pada acara-acara tertentu, aku juga sering dipilih sebagai pemeran utama dalam pentas drama. Seperti di sekolah yang menampilkan drama Cinderella (mungkin wajahku cocok disiksa *gubrak) dan banyak lagi.

Aku adalah aku. Aku tak seperti cinta laura yang selalu ditemani oleh sang ibundanya hingga ia sukses dalam bidang akademik dan non-akademik. Tak seperti christian, seorang anak yang berkebutuhan khusus namun mampu meraih banyak sekali medali karna kelihaiannya dalam berenang. Lagi-lagi peran seorang Ibu sangatlah mendukung. Sedangkan aku, jauh sekali dengan mereka yang hanya mendapatkan support melalui suara saja perantara telephone genggam. Mulai dari kelas 4 SD, aku sudah tinggal bersama nenek. Tak heran, ini membentuk kepribadianku yang tegar, pemberani dan tak mudah menyerah. Karna didikannya yang super duper keras namun penuh dengan kasih sayang. Ngomongin soal pemberani, sebenarnya dari kecil aku sudah menjadi anak yang sangat pemberani. Ketika awal masuk TK dulu, aku sama sekali tak mau diantar apalagi ditunggu oleh mamaku. Dan pulang bersama guruku. Dari kecil, aku memang sudah berani mengikuti lomba seperti nyanyi tanpa ada rasa malu (jangan pernah berpikir aku gak punya rasa malu). Sejak SD, aku sudah amat sering dipilih untuk mengikuti lomba mulai dari tingkat guslah, kecamatan hingga kabupaten. Dan Alhamdulillah aku selalu berhasil membawa piala ke rumah. Perasaan senang itu kadang berubah karna tak ada orang tuaku disini, mereka tidak bisa melihat piala yang kubawa hanya mendengar kabar saaat kutelpon dan melihatnya dari gambar yang kukirim. Tapi kemudian aku bangkit dari kesedihanku dan menyadari bahwa aku menang berkat do’a mereka juga.

Beranjak dewasa, aku melanjutkan sekolahku ke sekolah menengah pertama. Aku melanjutkan ke sekolah yang berbasiskan Islam jadi aku mendapatkan 2 pelajaran yakni dunia dan akhirat. Entah apa yang dilihat oleh guru bahasa Arabku hingga ia memanggilku dan berkata,

“maryam, ada lomba Qiroatul Akhbar kamu ikut yaa?” pinta beliau dengan tatapnya yang amat sangat yakin pada diriku.

“lomba apa itu bu?” tanyaku dengan nada polos. Memang saat itu aku masih kelas 7 jadi belum paham betul mengenai bahasa Arab.

“lomba baca berita tapi pakai bahasa Arab, ikut yaa kamu pasti bisa.” Jawab guruku dengan nada yang tambah yakin.

“tapi kan saya belum bisa apa-apa bu.” Kataku dengan nada yang amat sangat tidak yakin, berbeda dengan guruku.

“ini teksnya.. nanti pulang sekolah ke rumah ibu ya, kita latihan. Ibu percaya kamu bisa.”

“iya bu. Iya saya akan berusaha melakukan yang terbaik”

Sejak saat itu aku sangat giat berlatih serasa tak ingin mengecewakan guruku yang sudah memberi kepercayaan padaku. Tiap jam 3 subuh aku selalu bangun untuk solat tahajjud dan kemudian berlatih menjadi pembaca berita Arab yang handal. Hingga tiba saatnya perlombaan dimulai. Aku tak sendiri yang mewakili sekolah untuk mengikuti lomba tersebut. Ada kakak kelasku yang juga ikut. Aku mendapat nomor urut ke 6. Aku berdo’a semoga ini menjadi nomor keberuntunganku.

“Maryam Nusaibah Abdullah dengan nomor urut 6..”

Namaku dipanggil dan tepuk tangan sangat ramai sekali membuat jantungku rasanya ingin copot karna cepatnya berdetak. Aku menghela nafas dalam-dalam. Dengan mengucapkan “bismillah” dalam hati, ku mulai membacakan beritanya hingga selesai. Di panggung aku bisa mengantisipasi kegugupanku. Ini semua nasehat dari mbak Isti.

“dek, kalo kamu maju entar didepan kamu kan bacain beritanya duduk, nah telapak kakimu angkat dan bertumpu pada jari-jari kakimu.”

Dan sarannya kulakukan dan.. berhasil aku gak gugup. Ingin rasanya aku membacakan berita lagi karna saking enaknya di depan gak gugup.

Setelah semua tampil, kami tidak di perkenankan untuk pulang karna akan ada pengumuman siapa pemenangnya. Saat itu aku sudah tidak yakin bahwa aku akan menang. Aku selalu bilang,

“udah yuk bu pulang, saya gak bakal menang.”

Tetapi feelingku meleset aku mendapatkan juara 2. Aku amat sangat senang sekali. Dan rasa gak nyangka itu mulai menghampiriku. Peraih juara pertama itu berasal dari pondok. Pantas saja bahasa Arabnya sangatlah fasih. Lagi-lagi piala itu tak kuserahkan langsung pada orang tuaku.

Menginjak ke kelas 9, ada class meeting di sekolah. Ada banyak perlombaan yang mewajibkan setiap kelas untuk ikut. Dan aku dipilih untuk ikut lomba menyanyi. Aku bawa have fun lomba itu karna pada dasarnya aku suka sekali menyanyi. Dan kau tau setelah aku tampil, banyak adik-adik kelas yang memuji suaraku (untung aku sekolah memakai kerudung kalau tidak bisa-bisa mereka tau kalau kupingku lagi mekar hehe). Dan pujian itu membawa hasil. Aku meraih juara 1. Dan langsung kukabari orang tuaku yang sedang jauh di sana.

Naik ke bangku SMA, semua keadaan relatif sama. Ada apa dengan wajahku sebenarnya hingga guru-guru selalu memilihku untuk mengikuti perlombaan? Aku ditunjuk guru bahasa Arabku untuk mengikuti lomba pidato bahasa Arab. aku berlatih mencoba untuk memahami isinya dengan unsur menghafal. Dan suatu hari ketika pulang sekolah, aku melihat surat di kantor. Saat itu aku sedang bersungkeman dengan setiap guruku. Yaah itu adalah rutinitasku sebelum pulang. Aku meminta izin kepada TU untuk membaca suratnya. Ternyata surat itu adalah surat undangan perlombaan. Ternyata ada banyak perlombaan bukan hanya pidato bahasa Arab. dan ku baca di sana tertera ada “News Reading Competition”. Aku lebih tertarik untuk mengikuti lomba yang ini.

“pak, saya mau ikut lomba news reading aja pak.” Pintaku pada kepala sekolah.

“loh bukannya kamu udah ikut lomba bahasa Arab?” tanya pak kepsek.

“iya pak, tapi saya pengen ikut yang bahasa Inggris pak.”

“kalo bukan kamu yang ikut lomba bahasa Arab siapa lagi, dan untuk bahasa inggris, bapak sudah pilihkan siswa-siswi yang akan mengikutinya.”

“kalo ikut 2 lomba gimana pak?” pintaku dengan nada seperti sedang menawar.

“kamu gimana nanti belajarnya ? ikut 2 gak jadi beban ?” tanya kepsek.

“insya Allah enggak pak”. Jawabku dengan mantap.

“yasudah nanti bapak telpon panitia lombanya dan bapak tanyakan apakah boleh 1 orang mengikuti 2 lomba”.

“iya pak terima kasih”. Jawabku dengan senyum dan mulai meninggalkan kator.

Dalam perjalanan pulang aku ingin sekali cepat-cepat besok karna ingin mendengar kabar dari kepala sekolah. Entah apa yang membuatku ngebet sekali ingin ikut lomba bahasa Inggris. Mungkin dari kecil aku memang suka sekali yang namanya bahasa Inggris.

Esokpun tiba, ku tanyakan pada kepala sekolah dan yaah aku mendengar kabar bahagia bahwa aku boleh mengikuti 2 perlombaan. Saat itu aku langsung cepat-cepat mengisi formulirnya.

Hari berganti hari hingga tiba pada hari dimana perlombaan itu dimulai. Awalnya aku mengikuti lomba bahasa Arabnya dulu, setelah itu baru lomba bahasa Inggris. Dan kau tau? Aku sangat kecewa. Aku kalah dalam lomba bahasa Arab. bagaimana dengan bahasa Inggris ? yeaaayy alhamdulillah sekali aku meraih juara pertama. Aku langsung mengeluarkan hp dan langsung menelpon orang tuaku. Ku lihat mereka amat sangat bersyukur dan bahagia mendengar kabar itu. Yah hanya kabar. Mereka tak pernah menyaksikan kesuksesanku. Aku amat sangat bahagia. Lagi-lagi rasa bahagia itu tak berlangsung lama. Setelah sampai di rumah tak kutemukan sosok penyemangatku. Sosok dimana aku tunjukkan keberhasilanku padanya. Yaah nenekku sudah meninggalkanku. Allah lebih menyayanginya lebih dari aku yang menyayanginya. Sempat aku berpikir untuk apa aku menang kalau akan seperti ini jadinya. Dulu nenek adalah pengganti orang tuaku yang selalu mencemaskanku kalau aku pulang malam dari les bahasa inggris, yang selalu menasehatiku dan banyak hal yang ia lakukan. Aah nenek aku merinduukanmu. Tapi untungnya aku punya keluarga yang lain yaitu, mbak, om, tante, bibik, dan masih banyak lagi sepupuku. Mereka adalah segalanya bagiku. Aku juga memiliki sahabat-sahabat yang selalu mendukungku mulai dari sebelum lomba yang selalu memberikan doa dan ucapan semangat hingga usai lomba yang satu-persatu mengucapkan selamat. Aku bersyukur sekali. Maka nikmat Tuhan yang mana yang akan kau dustakan?

Mungkin kau berpikir bahwa aku selalu sukses atau berhasil membawa piala saat usai lomba. Kau salah besar!. Beberapa kali aku mengalami kegagalan itu. Sampai aku merasa diriku tak berarti dan membuatku down. Kenapa aku gak bisa menang? Kenapa aku harus kalah? Kenapa piala itu gak bisa aku pegang? Aku marah pada diriku sendiri karna ketidakbisaanku. Memang, aku ini terkenal sebagai wanita yang selalu berpikir positif dan selalu memberikan motivasi keepada setiap sahabat-sahabatku. Tak jarang jika mereka ada masalah selalu memilihku untuk menjadi tempat sandaran mereka. But i’m only human, I’m not a machine. Aku bisa menangis, kecewa, terpuruk dan lain sebagainya. Aku merindukan pelangi saat hujan kian hari kian lebat. Tapi aku memang berbeda dari yang lain. Aku memilih Allah sebagai tempatku menumpahkan curahan hatiku. Mungkin dari situlah semua berpikir bahwa aku tak pernah dirundung duka ataupun dihinggapi masalah apapun. Padahal mereka semua salah. Aku telah terbiasa tersenyum senang walau sebenarnya aku menangis. Aku lebih suka menuliskan semua kesedihanku dalam tiap lembar buku diaryku daripada harus menceritakan keluh kesahku pada sahabat-sahabatku. Aku tak ingin menjadi beban bagi mereka, yang aku ingin adalah menjadi obat bagi mereka.

Masa-masa SMA ini, kuhabiskan dengan menggoreskan tinta indah dalam hidupku. Mungkin kau bertanya, mengapa dari awal aku tak menceritakan mengenai “ a special someone in my life” ? aku tak butuh itu sekarang. Yang kubutuhkan adalah cara bagaimana aku mendapatkan mimpi-mimpi yang telah kugantungkan di atas langit sana. Aku adalah wanita yang memiliki komitmen yang keras dalam hidupku sendiri. Aku berjanji bahwa aku tidak mau dan tidak akan pacaran. Suatu saat nanti, aku akan dipertemukan dengan calon suamiku. Aku yakin itu. Komitmen itu membuat sebagian orang menganggapku abnormal (hiks..hiks..) ceritanya.....

                “dek, tadi toni ke rumah mbak” kata mbak rima memulai percakapan.

“oh iya mbak? Dari kemarin aku gak liat dia di sekolah. Kayaknya lagi ada masalah dengan guru.”

“iya dek semua orang emang nganggep dia buruk tapi sebenernya enggak kok”. Kata mbak rahma nampak sangat prihatin dengan keadaannya.

“iya mbak aku tau. Dia kan teman Sdku dulu jadi aku kenal dia.”

“dia cerita tentang kamu tadi dek”.

“cerita gimana mbak?” tanyaku penasaran.

“dia bilang kalo kamu itu gak punya rasa ketertarikan pada laki-laki. Masak dari sekian cowok yang suka kamu gak ada yang diterima satupun”.

Waaaaahh aku dibilang gak normal. Dia belum paham pada prinsipku. Toni adalah temanku sejak SD tapi setelah SMA kami berpisah. Dia masuk jurusan IPS dan aku IPA. Memang dialah yang sering menjadi mak comblang atas teman-temannya untuk mendekatiku. Dan aku tidak suka itu. Entah mengapa jika ada yang menyukaiku lebih-lebih satu kelas denganku, aku langsung membencinya (huaaa apa itu tanda aku gak normal). Tapi itu masa-masa SMP. Sekarang aku mencoba menerimanya dengan lapang dada. Aku mulai mengerti bahwa memiliki perasaan terhadap seseorang itu merupakan hak setiap orang. Dan aku menanggapinya biasa saja. Aku tak butuh mereka, yang kubutuhkan seseorang yang mengatakan cinta tidak hanya padaku tapi kepada orang tuaku tapi itu nanti setelah saat yang tepat. Aku masih terfokus pada mimpi-mimpiku.

Aku selalu bermimpi untuk menjadi wanita yang luar biasa. Tersenyum dalam keadaan sakit. Bangkit saat terpuruk. Bersabar dalam segala macam cobaan yang menghampiri. Tak mudah menyerah walau debu-debu membentuk sebuah kerikil tajam untuk menghambat pendakianku. Semangat untuk mengejar matahari tuk gapai tempatku di masa depan nanti. Dan berpikir positif atas setiap kejadian pendewasaan diri ini. Dan aku membutuhkan Tuhan untuk menjadikanku seperti dalam mimpi. Semangat Maryam Nusaibah Abdullah !

Komentar

Popular Posts