This Incredible Journey.. (short story)
Aku dilahirkan dari keluarga yang sangat sayang padaku. Jadi
aku tak pernah menuntut hal banyak karna cukup berkumpul dengan mereka saja
sudah membuat aku merasa bahwa hidupku jauh lebih indah dibandingkan kehiidupan
orang lain. Tetapi kenyataan sebenarnya berbalik. untuk menyatukan semua
keluarga seutuhnya itu sangat sulit. Kadang aku heran mengapa harus ada 2
kehidupan? Disana dan disini. Mengapa tidak disini atau disana saja. Sekarang
yang menjadi misiku kedepannya adalah menyatukan semuanya menjadi di sini saja.
Terlepas dari masalah keluarga yang terpisah-pisah tetapi
aku mensyukuri semuanya. Dengan keluarga yang siap menjadi bahu ketika aku
sedih, menjadi penerang jalanku ketika aku sudah merasa bahwa dunia ini sudah
gelap dan menjadi kompas saatku kehilangan arah. Juga keluargaku yang jauh
disana yang siap memelukku melalui do’a mereka. Aku dikirim oleh Tuhan untuk
berada di tengah jiwa-jiwa yang amat sangat peduli, mengerti dan memahami
kekurangan bahkan kelebihanku. Selalu ada dikala ku suka atau duka di setiap
tangisan dan juga tertawa. Selalu ada di kala ku jatuh di setiap bangunku
selalu menemani tanpa ada rasa jenuh. Yups, sahabat. Merekalah yang selalu
menemaniku mendengar kisah pahit manis hidupku. Mereka yang selalu membersamai
perjalan hidup ini.
Saat ini, aku duduk di bangku SMA kelas XII. Fiuuh!!
Masa-masa perang di mulai. Masa-masa dimana waktu tak boleh sama sekali
berjalan karna aku tau semua sama dengan diriku pernah berharap agar waktu ini
tak berlalu. Detik-detik tirai akan menutup panggung skenario. Dan skenario
baru mulai di usung oleh pena yang siap untuk menggoreskan tinta di dalamnya.
Masa jaya putih abu-abu akan selalu terkenang sampai kapanpun. Saat itu aku
ingin memiliki mesin waktu dan menjadi orang yang paling handal di dalamnya
karna aku bisa merekam setiap kejadian saat aku melangkah bersama
sahabat-sahabatku. Dan aku bisa memutarnya kapanpun aku mau. Walau sebenarnya
aku sadar bahwa hal yang paling jauh dan transportasi apapun tak akan pernah
bisa menjangkaunya adalah masa lalu.
Aku merupakan sosok perempuan
yang cukup aktif (dalam hal berbicara pun aku sangat aktif *gubrak*) tapi itu
hanya pada saat tertentu kok adakalanya aku kalem hehe. Dari SMP aku selalu
aktif menjadi anggota OSIS dan selalu menjadi Sekretaris Umum (terkesan monoton
memang) karna aku merasa bahwa diriku belum siap untuk naik pangkat menjadi
ketua. Aku belum percaya kepada diriku sendiri. Memimpin diri sendiri saja
belum becus malah mau mimpin orang lain apalagi dalam jumlah besar haddeehh.
Yaa aku termasuk orang yang bisa dikatakan aku belum becus,mengapa? Aku ini
mendapat predikat sebagai Ms. Telat *jlebb* predikat itu membuatku menelan
ludah dan rasanya sudah tak ada ludah dalam mulutku karna sudah tertelan semua
hehe *silly*. Tak hanya kawan-kawanku yang menyandangkanku predikat itu tapi
semua guru sudah paham akan kebiasaanku yang suka telat dan tidak disiplin
waktu. Jadi terkesan 1 sekolah sudah tau (waahh bahaya bukan?). tapi tenang,
ada kabar bahagia untukku. Yaitu ada beberapa orang yang belum tau jika aku
menyandang predikayt itu. Siapa mereka ? yuppss guru-guru baru yeaaayyy. Meski
pada akhirnya juga mereka semua akan tau (nampaknya tak ada yang memihak
padaku, help me !!!). menjadi Ms. Telat itu ada sisi positifnya juga loh. Yang
pertama aku menjadi terkenal (yah terkenal telatnya *jleb!) dan aku selalu
menjadi sorotan layaknya model yang sedang berjalan di catwalk (kenapa harus
ada “cat” nya cobak, udah tau aku phobia sama kucing). Eh menjadi sorotan karna
telatnya dan itu nampaknya bukan sisi positif hehe. Tapi entah apa yang
membuatku selalu lolos jika kepala sekolah menghukum para siswa-siswi yang
telat. Dari aku mulai menginjakkan kaki pertama memasuki gerbang sekolah sampai
saat ini dimana aku akan menginjakkan kaki keluar gerbang sekolah, aku tak
pernah sama sekali merasakan hukuman. Padahal aku datang tepat pada saat kepsek
mengontrol tapi beliau sama sekali tak menegur atau memanggilku. Memang, aku
ini terkenal sebagai anak kesayangan kepsek (waahh nanmpaknya aku ini banyak
terkenalnya). Teringat pada suatu kejadian..
Pagi itu ketika aku bangun
tidur, aku sudah memantapkan hati untuk berubah. Aku sudah mengatur scedhule
harianku (meski hanya berlaku max 1 minggu). aku bangun pagi sekali, membuka
jendela kamar, memandang langit yang masih bergelimangan bintang-bintang yang
sangat cantik dengan kemantapan hati bahwa aku harus berubah menjadi makhluk
yang ON TIME. Aku memulai aktifitas pagiku mulai dari sholat, mengaji,
membereskan rumah dan sarapan pagi. Aku lihat jam di dinding, masih pukul
05:30. Aku senang sekali karna waktu masih lama dan aku bisa santai tanpa harus
terburu-buru. Aku memutuskan untuk membaca buku sebentar sambil menunggu waktu
untuk mandi dan bersiap ke sekolah. Hobiku memang membaca jadi aku selalu
menghabiskan waktu luangku dengan membaca. dan semua keluargaku tau itu. Jadi
jika mereka bepergian dan melihat buku, mereka selalu menyisihkan uangnya untuk
membelikanku buku. Jadi bisa dibilang memang dalam rak bukuku mayoritas semua
dibelikan bukan membeli (terkesan gak modal banget yaa *Oh No). Kulihat lagi
jam di dinding “aah masih jam 6 kurang 15, nanti ajalah mandinya jam 6”.
Besitku dalam hati. Aku selalu menunda-nunda waktu. Lebih tepatnya begitu. Tapi
penundaan itu ada karna letak sekolahku amat sangat dengan dengan rumahku. Bisa
dibilang hanya 50 meteranlah atau mungkin lebih (lebihnya juga paling 10
kebawah). Dan setelah ku lihat dinding lagi, tepat sekali yaa tepat jam 6. Aku
langsung bergegas mandi, dan langsung mendirikan solat dhuha. Walaupun hukumnya
sunnah, sholat dhuha sudah menjadi kewajiban tersendiri dalam hidupku. Solat
dhuha adalah caraku bersedekah kepada Allah atas nikmat nafas ynag dapat
kuhembuskan setiap harinya. Setelah itu aku lihat dinding lagi, waktu
menunjukkan jam 06:35, perfectly!. Dengan keyakinan aku tidak akan telat hari
itu. Dannn.... OH MY GOD ternyata Tuhan berkehendak lain, seragam sekolahku
lupa ku setrika. Karna kemarin merupakan hari ulang tahunku jadi seragamku
penuh dengan noda yang diberikan oleh teman-temanku. Dengan perasaan panik aku
langsung menyiapkan setrika tetapi aku tak menemukan benda itu di sudut manapun
rumah. Aku bertanya kepada setiap orang di rumahku yang kutemui. Tak satupun
yang tau. Aku sangat ragu untuk bertanya kepada adik sepupuuku yang masih
berumur 3 tahun tapi akhirnya kutanyakan. Ternyata dia yang menyembunyikannya
di bawah ranjang tempat tidurku (aaaahhh manusia kecil ini ....). setelah
mengambil di kolong ranjang, aku langsung mulai menyetrika dan ku lihat jam
dan... 06.50. aku mempercepat gerak tanganku untuk menyetrikanya. Tapi dasar suatu
pekerjaan yang dilakukan secara tergesa-gesa akan membawa dampak buruk. Yah,
tanganku terkena panasnya setrika hingga memberi identitas warna hitam di
lenganku (ngenes sekali memang). Selesainya, aku langsung bersiap-siap, memakai
sepatu dan mengambil tas. Hp selalu kubiarkan berada di atas laci karna aku
pikir gak ada gunanya bawa ghp ke sekolah hanya ngerusak konsentrasi saja. Toh
kalau pelajaran yang membutuhkan hitung-menghitung aku punya kalkulator. Aku
berangkat berpamitan dan mencium tangan semua keluargaku dengan terburu-buru.
Mereka memang hafal sekali setiap berangkat sekolah aku pasti terburu-buru. Tak
heran aku selalu menjadi lelucon di mata mereka padahal ini kan bukan lelucon,
aku tersiksa (hiks..hiks). sesampainya di gerbang sekolah, aku lihat suasana
sudah sangat sepi. Guru-guru sudah mulai menerangkan pelajaran di setiap
masing-masing kelas. Aku berjalan menuju ruang kelasku dan ku lihat kepsek
sedang berdiri tepat di tengah-tengah halaman sekolah. Aku hanya tersenyum
kepada beliau tanpa bermaksud untuk mencium tangannya karna aku memiliki wudlu’
dan beliaupun pasti juga. Karna beliau selalu berpesan agar setiap siswa mampu
menjaga wudlu’nya. Dan kulihat lagi nampaknya tak ada niat beliau untuk menegur
bahkan menghukumku karna aku telat. Beliau hanya membalas senyum dan sapaanku
lalu membiarkanku untu perdi. Dan.. setelah aku membuka pintu kelas,
teman-temanku memang sudah memantauku dari jauh memastikan bahwa aku gak
bakalan kena hukuman. Kudengar salah satu temanku bilang, “eh liat deh, itu”
sambil menunjuk keluar. Dan kami semua melihat melalui jendela. Disana ada
kepsek yang sedang menghukum teman sekelasku yang juga telat. Padahal selisih
kedatanganku dengannya hanya mungkin 3 menit dan intinya kami sama-sama telat.
Kejadian semacam itu selalu terulang dalam hari-hariku yaitu bebas hukuman
telat. Jadi teman-temanku kalau mau dateng telat, selalu sms aku, minta masuk
bareng dari gerbang karna dianggap kalau ada aku, merekapun akan bebas hukuman.
Dan itu terbukti. Tetapi aku tak
sepenuhnya terbebas dari hukuman. Masih ada guru bahasa Indonesia yang selalu
senang untuk menghukum murid-muridnya yang berangkat telat. Hukumannya adalah
menyanyi. Dan aku selalu mendapatkan hukuman itu. Aku sama sekali gak merasa
tertekan dengan hukumannya karna pada dasarnya aku suka menyanyi. Sampai-sampai
kalau mau berangkat sekolah pada jadwal bahasa Indonesia, aku selalu memikirkan
lagu apa yang akan kunyanyikan nanti (hehe konyol sekali bukan ?). ditambah
lagi guruku yang selalu bilang “maryam, besok-besok telat lagi yaa biar bisa
nyanyi”. Perintah ibu guru.
Tak hanya terkenal dengan nama
Ms.Telat, aku juga terkenal sebagai siswa yang cerdas (ini mereka loh yang
bilang ups aku yaa yang nulis). Ini semua karena mulai dari SD sampai SMA
sekarang ini, aku selalu mendapatkan peringkat pertama. Tapi aku sendiri tak
merasa bahwa aku ini termasuk orang yang cerdas. Aku hanya belajar semampuku. Ini
sebabnya aku selalu ingin mengenyam pendidikan di luar daerahku. Dan aku
bermimpi ketika aku lulus nanti, aku bisa kuliah di luar pulau ini. Karena apa
gunanya kita hebat hanya di daerah kita. Aku ingin berkompetisi di luar. Dari situlah
aku bisa mengukur kemampuanku.
Selain aktif dalam organisasi
osis, aku juga aktif mengikuti kegiatan pramuka (tapi aktifnya kalau mau ada
kemah saja hehe). Sebenarnya aku bukan siswi yang ikut DKR tapi aku selalu
dipilih untuk mengikuti event seperti Jambore Nasional dll. Teman-teman juga
menjuluki super sibuk (julukan terus nampaknya *fiuuhh). Yaa aktifitas harianku
yang super duper padat. Pagi sampai siang sekolah, siang sampai sore harus
mengajar di sebuah Madrasah Diniyah. Ba’da Maghrib harus stand by di Langgar
rumah untuk mengajar ngaji membantu omku karna anak-anaknya yang kian hari kian
bertambah jumlahnya. Dan malam, saatnya belajar dan istirahat sampai besok pagi
dan kegiatan itu selalu sama setiap harinya. hari Jum’at memang pulang awal,
dan madrasah libur. Yeayy bisa istirahat dong? Tidak. Aku harus mengajar les
bahasa inggris di sebuah SD. Guru biologiku yang juga sebagai kepsek SD,
menyuruhku untuk menyalurkan ilmu yang aku punya kepada murid-muridnya. Aku
mengajar les dari jam 14:00 sampai 15:30 selepas itu, aku harus berangkat lagi
untuk les bahasa inggris untuk diriku sendiri di sekolah sampai adzan maghrib
berkumandang. Baru deh pulang, setibanya di rumah, anak-anak pengajian sudah
menanti. Aaaahhh i feel stressful actually. Bagaimana dengan hari libur yaitu
Sunday ? it’s the same! *fiuuhh. Jadi aku adalah salah satu orang yang sangat
bahagia dan selalu menantikan kata Holiday hehe. Aku juga terpilih dari sekian
banyak siswa yang mendaftar untuk mendapatkan scolarship learning english yang
dibiayai langsung oleh orang-orang Amerika. Dan tahukah kau ? aku dipilih
sebagai siswi yang memberikan sambutan kepada orang-orang Amerika sana pada
acara graduation day. Wow, that’s unexpectable feeling ! mungkin karena hobiku
berbicara (bukan berarti cerewet ya). Pada acara-acara tertentu, aku juga
sering dipilih sebagai pemeran utama dalam pentas drama. Seperti di sekolah
yang menampilkan drama Cinderella (mungkin wajahku cocok disiksa *gubrak) dan
banyak lagi.
Aku adalah aku. Aku tak seperti
cinta laura yang selalu ditemani oleh sang ibundanya hingga ia sukses dalam
bidang akademik dan non-akademik. Tak seperti christian, seorang anak yang
berkebutuhan khusus namun mampu meraih banyak sekali medali karna kelihaiannya
dalam berenang. Lagi-lagi peran seorang Ibu sangatlah mendukung. Sedangkan aku,
jauh sekali dengan mereka yang hanya mendapatkan support melalui suara saja
perantara telephone genggam. Mulai dari kelas 4 SD, aku sudah tinggal bersama
nenek. Tak heran, ini membentuk kepribadianku yang tegar, pemberani dan tak
mudah menyerah. Karna didikannya yang super duper keras namun penuh dengan
kasih sayang. Ngomongin soal pemberani, sebenarnya dari kecil aku sudah menjadi
anak yang sangat pemberani. Ketika awal masuk TK dulu, aku sama sekali tak mau
diantar apalagi ditunggu oleh mamaku. Dan pulang bersama guruku. Dari kecil,
aku memang sudah berani mengikuti lomba seperti nyanyi tanpa ada rasa malu (jangan
pernah berpikir aku gak punya rasa malu). Sejak SD, aku sudah amat sering
dipilih untuk mengikuti lomba mulai dari tingkat guslah, kecamatan hingga
kabupaten. Dan Alhamdulillah aku selalu berhasil membawa piala ke rumah.
Perasaan senang itu kadang berubah karna tak ada orang tuaku disini, mereka
tidak bisa melihat piala yang kubawa hanya mendengar kabar saaat kutelpon dan
melihatnya dari gambar yang kukirim. Tapi kemudian aku bangkit dari kesedihanku
dan menyadari bahwa aku menang berkat do’a mereka juga.
Beranjak dewasa, aku melanjutkan
sekolahku ke sekolah menengah pertama. Aku melanjutkan ke sekolah yang
berbasiskan Islam jadi aku mendapatkan 2 pelajaran yakni dunia dan akhirat.
Entah apa yang dilihat oleh guru bahasa Arabku hingga ia memanggilku dan
berkata,
“maryam, ada lomba Qiroatul Akhbar kamu ikut yaa?” pinta
beliau dengan tatapnya yang amat sangat yakin pada diriku.
“lomba apa itu bu?” tanyaku dengan nada polos. Memang saat
itu aku masih kelas 7 jadi belum paham betul mengenai bahasa Arab.
“lomba baca berita tapi pakai bahasa Arab, ikut yaa kamu
pasti bisa.” Jawab guruku dengan nada yang tambah yakin.
“tapi kan saya belum bisa apa-apa bu.” Kataku dengan nada
yang amat sangat tidak yakin, berbeda dengan guruku.
“ini teksnya.. nanti pulang sekolah ke rumah ibu ya, kita
latihan. Ibu percaya kamu bisa.”
“iya bu. Iya saya akan berusaha
melakukan yang terbaik”
Sejak saat itu aku sangat giat berlatih serasa tak ingin
mengecewakan guruku yang sudah memberi kepercayaan padaku. Tiap jam 3 subuh aku
selalu bangun untuk solat tahajjud dan kemudian berlatih menjadi pembaca berita
Arab yang handal. Hingga tiba saatnya perlombaan dimulai. Aku tak sendiri yang
mewakili sekolah untuk mengikuti lomba tersebut. Ada kakak kelasku yang juga
ikut. Aku mendapat nomor urut ke 6. Aku berdo’a semoga ini menjadi nomor
keberuntunganku.
“Maryam Nusaibah Abdullah dengan
nomor urut 6..”
Namaku dipanggil dan tepuk tangan sangat ramai sekali
membuat jantungku rasanya ingin copot karna cepatnya berdetak. Aku menghela
nafas dalam-dalam. Dengan mengucapkan “bismillah” dalam hati, ku mulai
membacakan beritanya hingga selesai. Di panggung aku bisa mengantisipasi
kegugupanku. Ini semua nasehat dari mbak Isti.
“dek, kalo kamu maju entar didepan kamu kan bacain beritanya
duduk, nah telapak kakimu angkat dan bertumpu pada jari-jari kakimu.”
Dan sarannya kulakukan dan.. berhasil aku gak gugup. Ingin
rasanya aku membacakan berita lagi karna saking enaknya di depan gak gugup.
Setelah semua tampil, kami tidak di perkenankan untuk pulang
karna akan ada pengumuman siapa pemenangnya. Saat itu aku sudah tidak yakin
bahwa aku akan menang. Aku selalu bilang,
“udah yuk bu pulang, saya gak
bakal menang.”
Tetapi feelingku meleset aku mendapatkan juara 2. Aku amat
sangat senang sekali. Dan rasa gak nyangka itu mulai menghampiriku. Peraih
juara pertama itu berasal dari pondok. Pantas saja bahasa Arabnya sangatlah
fasih. Lagi-lagi piala itu tak kuserahkan langsung pada orang tuaku.
Menginjak ke kelas 9, ada class meeting di sekolah. Ada
banyak perlombaan yang mewajibkan setiap kelas untuk ikut. Dan aku dipilih
untuk ikut lomba menyanyi. Aku bawa have fun lomba itu karna pada dasarnya aku
suka sekali menyanyi. Dan kau tau setelah aku tampil, banyak adik-adik kelas
yang memuji suaraku (untung aku sekolah memakai kerudung kalau tidak bisa-bisa
mereka tau kalau kupingku lagi mekar hehe). Dan pujian itu membawa hasil. Aku
meraih juara 1. Dan langsung kukabari orang tuaku yang sedang jauh di sana.
Naik ke bangku SMA, semua keadaan relatif sama. Ada apa
dengan wajahku sebenarnya hingga guru-guru selalu memilihku untuk mengikuti
perlombaan? Aku ditunjuk guru bahasa Arabku untuk mengikuti lomba pidato bahasa
Arab. aku berlatih mencoba untuk memahami isinya dengan unsur menghafal. Dan
suatu hari ketika pulang sekolah, aku melihat surat di kantor. Saat itu aku
sedang bersungkeman dengan setiap guruku. Yaah itu adalah rutinitasku sebelum
pulang. Aku meminta izin kepada TU untuk membaca suratnya. Ternyata surat itu
adalah surat undangan perlombaan. Ternyata ada banyak perlombaan bukan hanya
pidato bahasa Arab. dan ku baca di sana tertera ada “News Reading Competition”.
Aku lebih tertarik untuk mengikuti lomba yang ini.
“pak, saya mau ikut lomba news
reading aja pak.” Pintaku pada kepala sekolah.
“loh bukannya kamu udah ikut
lomba bahasa Arab?” tanya pak kepsek.
“iya pak, tapi saya pengen ikut
yang bahasa Inggris pak.”
“kalo bukan kamu yang ikut lomba bahasa Arab siapa lagi, dan
untuk bahasa inggris, bapak sudah pilihkan siswa-siswi yang akan mengikutinya.”
“kalo ikut 2 lomba gimana pak?” pintaku
dengan nada seperti sedang menawar.
“kamu gimana nanti belajarnya ?
ikut 2 gak jadi beban ?” tanya kepsek.
“insya Allah enggak pak”.
Jawabku dengan mantap.
“yasudah nanti bapak telpon panitia lombanya dan bapak
tanyakan apakah boleh 1 orang mengikuti 2 lomba”.
“iya pak terima kasih”. Jawabku
dengan senyum dan mulai meninggalkan kator.
Dalam perjalanan pulang aku ingin sekali cepat-cepat besok
karna ingin mendengar kabar dari kepala sekolah. Entah apa yang membuatku
ngebet sekali ingin ikut lomba bahasa Inggris. Mungkin dari kecil aku memang
suka sekali yang namanya bahasa Inggris.
Esokpun tiba, ku tanyakan pada kepala sekolah dan yaah aku
mendengar kabar bahagia bahwa aku boleh mengikuti 2 perlombaan. Saat itu aku
langsung cepat-cepat mengisi formulirnya.
Hari berganti hari hingga tiba pada hari dimana perlombaan
itu dimulai. Awalnya aku mengikuti lomba bahasa Arabnya dulu, setelah itu baru
lomba bahasa Inggris. Dan kau tau? Aku sangat kecewa. Aku kalah dalam lomba
bahasa Arab. bagaimana dengan bahasa Inggris ? yeaaayy alhamdulillah sekali aku
meraih juara pertama. Aku langsung mengeluarkan hp dan langsung menelpon orang
tuaku. Ku lihat mereka amat sangat bersyukur dan bahagia mendengar kabar itu.
Yah hanya kabar. Mereka tak pernah menyaksikan kesuksesanku. Aku amat sangat
bahagia. Lagi-lagi rasa bahagia itu tak berlangsung lama. Setelah sampai di
rumah tak kutemukan sosok penyemangatku. Sosok dimana aku tunjukkan
keberhasilanku padanya. Yaah nenekku sudah meninggalkanku. Allah lebih
menyayanginya lebih dari aku yang menyayanginya. Sempat aku berpikir untuk apa
aku menang kalau akan seperti ini jadinya. Dulu nenek adalah pengganti orang
tuaku yang selalu mencemaskanku kalau aku pulang malam dari les bahasa inggris,
yang selalu menasehatiku dan banyak hal yang ia lakukan. Aah nenek aku
merinduukanmu. Tapi untungnya aku punya keluarga yang lain yaitu, mbak, om,
tante, bibik, dan masih banyak lagi sepupuku. Mereka adalah segalanya bagiku.
Aku juga memiliki sahabat-sahabat yang selalu mendukungku mulai dari sebelum
lomba yang selalu memberikan doa dan ucapan semangat hingga usai lomba yang
satu-persatu mengucapkan selamat. Aku bersyukur sekali. Maka nikmat Tuhan yang
mana yang akan kau dustakan?
Mungkin kau berpikir bahwa aku selalu sukses atau berhasil
membawa piala saat usai lomba. Kau salah besar!. Beberapa kali aku mengalami
kegagalan itu. Sampai aku merasa diriku tak berarti dan membuatku down. Kenapa
aku gak bisa menang? Kenapa aku harus kalah? Kenapa piala itu gak bisa aku
pegang? Aku marah pada diriku sendiri karna ketidakbisaanku. Memang, aku ini
terkenal sebagai wanita yang selalu berpikir positif dan selalu memberikan
motivasi keepada setiap sahabat-sahabatku. Tak jarang jika mereka ada masalah
selalu memilihku untuk menjadi tempat sandaran mereka. But i’m only human, I’m
not a machine. Aku bisa menangis, kecewa, terpuruk dan lain sebagainya. Aku
merindukan pelangi saat hujan kian hari kian lebat. Tapi aku memang berbeda
dari yang lain. Aku memilih Allah sebagai tempatku menumpahkan curahan hatiku.
Mungkin dari situlah semua berpikir bahwa aku tak pernah dirundung duka ataupun
dihinggapi masalah apapun. Padahal mereka semua salah. Aku telah terbiasa
tersenyum senang walau sebenarnya aku menangis. Aku lebih suka menuliskan semua
kesedihanku dalam tiap lembar buku diaryku daripada harus menceritakan keluh
kesahku pada sahabat-sahabatku. Aku tak ingin menjadi beban bagi mereka, yang
aku ingin adalah menjadi obat bagi mereka.
Masa-masa SMA ini, kuhabiskan dengan menggoreskan tinta
indah dalam hidupku. Mungkin kau bertanya, mengapa dari awal aku tak menceritakan
mengenai “ a special someone in my life” ? aku tak butuh itu sekarang. Yang kubutuhkan
adalah cara bagaimana aku mendapatkan mimpi-mimpi yang telah kugantungkan di
atas langit sana. Aku adalah wanita yang memiliki komitmen yang keras dalam
hidupku sendiri. Aku berjanji bahwa aku tidak mau dan tidak akan pacaran. Suatu
saat nanti, aku akan dipertemukan dengan calon suamiku. Aku yakin itu. Komitmen
itu membuat sebagian orang menganggapku abnormal (hiks..hiks..) ceritanya.....
“dek,
tadi toni ke rumah mbak” kata mbak rima memulai percakapan.
“oh iya mbak? Dari kemarin aku gak liat dia di sekolah. Kayaknya
lagi ada masalah dengan guru.”
“iya dek semua orang emang nganggep dia buruk tapi
sebenernya enggak kok”. Kata mbak rahma nampak sangat prihatin dengan
keadaannya.
“iya mbak aku tau. Dia kan teman Sdku dulu jadi aku kenal
dia.”
“dia cerita tentang kamu tadi dek”.
“cerita gimana mbak?” tanyaku penasaran.
“dia bilang kalo kamu itu gak punya rasa ketertarikan pada
laki-laki. Masak dari sekian cowok yang suka kamu gak ada yang diterima satupun”.
Waaaaahh aku dibilang gak
normal. Dia belum paham pada prinsipku. Toni adalah temanku sejak SD tapi
setelah SMA kami berpisah. Dia masuk jurusan IPS dan aku IPA. Memang dialah
yang sering menjadi mak comblang atas teman-temannya untuk mendekatiku. Dan aku
tidak suka itu. Entah mengapa jika ada yang menyukaiku lebih-lebih satu kelas
denganku, aku langsung membencinya (huaaa apa itu tanda aku gak normal). Tapi itu
masa-masa SMP. Sekarang aku mencoba menerimanya dengan lapang dada. Aku mulai
mengerti bahwa memiliki perasaan terhadap seseorang itu merupakan hak setiap
orang. Dan aku menanggapinya biasa saja. Aku tak butuh mereka, yang kubutuhkan
seseorang yang mengatakan cinta tidak hanya padaku tapi kepada orang tuaku tapi
itu nanti setelah saat yang tepat. Aku masih terfokus pada mimpi-mimpiku.
Aku selalu bermimpi untuk
menjadi wanita yang luar biasa. Tersenyum dalam keadaan sakit. Bangkit saat terpuruk.
Bersabar dalam segala macam cobaan yang menghampiri. Tak mudah menyerah walau
debu-debu membentuk sebuah kerikil tajam untuk menghambat pendakianku. Semangat
untuk mengejar matahari tuk gapai tempatku di masa depan nanti. Dan berpikir
positif atas setiap kejadian pendewasaan diri ini. Dan aku membutuhkan Tuhan
untuk menjadikanku seperti dalam mimpi. Semangat Maryam Nusaibah Abdullah !



Komentar
Posting Komentar
Kritik dan saran sangat saya harapkan