Lalu Apa yang Membuatmu Ragu untuk Menulis ?
Semua orang akan
mati hanya karyanyalah yang abadi, maka tulislah sesuatu yang akan
membahagiakanmu di akhirat nanti
(Ali bin Abi Thalib).
Begitulah ungkapan mengenai seberapa besar manfaat dari
sebuah karya berupa tulisan. Menulis merupakan pekerjaan untuk sebuah
keabadian. Kita tak pernah tau sampai kapan raga kita akan berada di dunia. Lambat
laun, nama kita pun akan dni seiring perkembangan zaman. Maka selagi kita masih
hidup, kita harus membuat sebuah karya yang akan menjadi aliran amal di
keabadian hidup kelak.
Menulis adalah sarana dakwah, ibadah dan aktualisasi diri. Dengan
menulis, itu berarti kita telah menabung pundi-pundi amal ibadah. Coba
bayangkan, ketika kita menulis satu kebaikan, lalu ada satu orang yang membaca
dan mengikutinya, kita akan mendapatkan sepuluh kebaikan. Lalu jika ia
terus-menerus mengikutinya, pahala kita akan deras mengalir ke tabungan amal
kita. Itu baru satu orang, jika lima orang, sepuluh, seratur atau bahkan hampir
seluruh orang di dunia bisa membaca dan mengikuti tulisan pesan kebaikan yang
kita sampaikan, berapa banyak sudah tabungan amal kita terkumpul.
Sayyid Quthb mengungkapkan bahwa “Peluru itu” katanya, yang
biasa digunakan untuk menembak, hanya mampu menembus satu kepala, sedangkan
tulisan mampu menembus ratusan hingga ribuan kepala.” Sebuah tulisan itu
sangatlah kuat hingga mampu menggoncangkan dunia, bergerak secara perlahan dan
menuntaskan perubahan. Jika kita lihat catatan sejarah para ‘alim ulama’
terdahulu, banyak dari mereka menyebarkan kebaikan dan mengalahkan musuh dengan
sebuah tulisan. Lebih dari itu, mereka mampu mencerdaskan umat hingga saat ini
dengan tulisan yang mereka buat.
Sayyid Quthb menulis tafsir Fi Zhilalil Qur’an saat dalam
penjara. Hasan Al Banna tetap menulis ketika perjalanan jauh menaiki kereta.
Ibnu Hazm seorang ulama’ yang dilahirkan di Spanyol telah menulis hingga 400
jilid buku di berbagai bidang ilmu pengetahuan, tulisannya dijadikan senjata
untuk melawan pihak musuh. Dan masih banyak lagi fakta-fakta yang telah ulama’
terdahulu perjuangkan untuk tetap bisa menulis. Oleh karena itu, mari sebagai
umat muslim yang menjunjung tinggi nilai akhlak dan keimanan, sudah semestinya
kita menjadi penyambung estafet kebaikan.
Kalau kamu bukan
raja dan bukan anak dari seorang ulama’ besar, maka jadilah penulis.
(Imam Syafi’i)



Keren
BalasHapus