[D]an.. [A]lunan [K]isah [W]arnai [A]wan [H]ariku
Sebiru hari
ini..
Birunya bagai
langit terang benderang
Sebiru hari
kita..
Bersama disini
Seindah hari
ini..
Indahnya bak
permadani taman surga
(Lagu Sebiru Hari Ini, Edcoustic)
Setiap manusia dilahirkan dengan segala macam kisah yang
berbeda-beda. Manusia terlahir bagai selembar kertas putih. Tinggal dilukis
dengan tinta macam apa, itu tergantung manusianya sendiri. Seperti aku,
misalnya. Kulukiskan kisah ini bersama mereka dalam bingkai keimanan. Tak
menyangka akan jadinya seperti ini, aku bahagia berada disini, disini di
Bapinda J
awalnya….
Kemeja putih, rok hitam, kerudung putih dengan bros bunga,
kaos kaki putih, sepatu hitam dan tak lupa kukenakan almamater hijau kebanggan
IAIN RADEN INTAN. Ini adalah hari pertamaku pergi ke kampus untuk mengikuti
Kuliah Ta’aruf (Pengenalan Kampus). Kukatakan pada diriku sendiri di hadapan
cermin “you’ll be great, zubaida!! bismillaah” tak lupa
aku meminta do’a pada ayah dan ibuku agar hari pertamaku berjalan lancar.
Karena sejujurnya tak ada satu manusiapun yang sebelumnya pernah aku kenal. Aku
masih “asing” disini. Karena aku baru berhujrah dari Madura ke Bandarlampung.
Ayah dengan setia mengantarku ke kampus dan ibuku selalu setia menyiapkan bekal
untukku. Setibanya di depan gerbang kampus, banyak sekali orang-orang yang
berpakaian sepertiku, itu pasti mahasiswa baru. Aku memutuskan untuk turun di
depan gerbang dan tak mengizinkan ayahku untu mengantarku ke dalam karena aku
ingin bersama dengan gerombolan para maba itu, ini kujadikan sebagai ajang
menemukan teman baru.
“assalamu’alaikum
mbak, nama saya zubaida. Mbak siapa namanya ?” celotehku dengan lagak sok
kenal.
“wa’alaikumsalam,
nama saya ratih.” Jawab mbak itu dengan senyum manisnya.
“asli sini
atau dimana mbak?” tanyaku ingin tau.
“bukan
mbak, disini ngekos aslinya di kota bumi.” Jawabnya lagi.
“Ratiiiihh…
ayoo sini cepetan jalannya!” Salah satu temannya berteriak mengganggu
perbincangan kami.
“yaudah
mbak saya duluan yaa sudah dipanggil sama temen.” Dia berkata sambil
terburu-buru mengejar temannya yang sudah berada didepan.
Kubalas kepergiannya dengan senyuman. Kuperhatikan puluhan
orang-orang disekitarku bahkan mungkin ratusan. Dan lihat!! Mereka semua
memiliki pasangan atau kelompok untuk mengobrol. Apakah hanya aku yang datang
kesini seorang diri tanpa mengenal siapapun ?
Kususuri jalan menuju lapangan ditengah-tengah para maba dan
kulihat di sepanjang pinggir jalan ada banyak orang berdiri dengan tertata rapi
yang semuanya memegang sesuatu yang berisikan bacaan. Aku tak menghiraukan
bacaan itu yang kulihat hanya orang-orang yang memegang itu cantik-cantik
sekali. Dengan senyum yang mengembang sehingga terlihat sangat ramah dan
pakaiannya yang sangat menutup aurat sehingga terlihat sangat anggun. Setibanya
di lapangan, kami diperintahkan untuk berbaris sesuai fakultas kami. Dan
disanalah aku menemukan teman baru. Namanya desi. Dia sangat baik padaku. Saat
kami diperintahkan untuk membuat segala atribut kuliah ta’aruf, dia selalu
menyemangatiku untuk membuatnya sebagus mungkin. Dan kebersamaan kami tak
berlangsung lama karena kami tidak ditakdirkan untuk berada dalam satu
kelompok. Akhirnya namaku disebut untuk bergabung dengan teman-teman yang lain
untuk membentuk suatu kelompok yang didampingi oleh Kaas (kakak asuh). Kaas
berperan penting dalam proses kuliah ta’aruf karena dialah yang menemani kami
dalam proses kulta ini, sedikit banyak menceritakan keadaan kampus, berikut
organisasi yang ada di dalamnya. Tak lama kemudian kami diperintahkan untuk
masuk ke Gedung Serba Guna atau disebut GSG. Disana kami duduk sesuai dengan
fakultas juga jurusan. Kami disuguhkan oleh banyak penampilan dari mahasiswa
yang tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa kampus. Ada di antaranya UKM
Maharipal (Mahasiswa Pecinta Alam), kegiatannya itu yaa seperti mendaki gunung,
arum jeram dan sebagainya yang berkaitan dengan alam. Bidang ini cocok sekali
bagi yang hobi traveling. Aku ? pengen gabung. Setelah itu, ada juga UKM Pencak
Silat, kegiatannya yaa beradu fisik dengan melakukan pencak silat. Bagi orang
yang sangat suka film yang berkaitan dengan aksi, aku suka banget. Jadi
kesimpulannya, aku ? pengen gabung. Ada juga UKM LPM (Lembaga Pers Mahasiswa),
bagi aku yang hobinya nulis, aku ingin bergabung di dalamnya. Dann… hampir
semua UKM yang ditampilkan hari itu, aku ingin bergabung semua di dalamnya. Aku
berpikir sejenak, tidak mungkin aku akan mengikuti semua organisasi itu, niatku
disini ingin kuliah dan mendapatkan Indeks Prestasi yang memuaskan. Lalu
bagaimana caranya memuaskan ambisiku yang ingin menjadi mahasiswi aktifis juga
akademis?? Mustahil jika semua organisasi kuikuti tidak akan mengganggu waktu
kuliahku. Setidaknya aku harus mampu dulu memanajemen waktu dengan baik.
Sebelum pikiranku usai, ada satu penampilan terakhir. Suara
gemuruh para maba menyeruak. Sambutan dari MC acaranya pun spesial. Nampaknya
yang akan tampil ini luar biasa. Suara takbir bergemuruh. Aku penasaran
akhirnya aku turun dari lantai atas GSG dan … Masya Allaaahhh penampilannya
sangat memukau. Banyak sekali anggota dalam UKM ini dan kuperhatikan
benderanya, sepertinya aku kenal. Oh iyaa itu bendera yang terpajang di stand
saat aku membeli buku kecil berjudul “al-matsurat dzikir pagi dan petang”. Aku
ingat betul bendera itu yang kulihat saat awal menginjakkan kaki di kampus ini,
merekalah orang-orang yang kulihat
berjejeran di sepanjang jalan kemarin saat pertama datang ke kampus ini.
Akhirnya aku tau siapa mereka. Mereka adalah para pejuang dakwah. UKM BAPINDA
namanya, Bidang Pembinaan Dakwah. Hatiku berdesir saat kami disemangati dengan
seruan takbir. Yaa Allah kesan pertama saja sudah seperti ini. Aku bagaikan
sudah tertarik oleh sebuah magnet yang mustahil untuk kutolak. Tak perlu
berpikir panjang, sekeluarnya aku dari GSG ini, aku harus mendaftar ke UKM ini.
Tidak serta merta orang yang mendaftar di UKM Bapinda
otomatis menjadi kader. Kami harus melewati masa perekrutan yang diberi nama
PKD (Pelatihan Kader Dakwah). Disana, aku mulai menemukan teman baru, pelajaran
baru, pengalaman baru dan inspirasi
baru. Aku yakin, orang-orang yang mengikuti pelatihan ini sama antusiasnya
denganku. Tempat duduk kami sangat dijaga. Terutama untuk yang ikhwan dan
akhwat (begitu sebutannya bagi laki-laki dan perempuan). Aku melihat sekali
bagaimana nuansa Islam menghiasi gerak dakwah ini. Aku jadi mempunyai keinginan
untuk mengenal semua akhwat2 yang sudah ada lebih dulu dalam organisasi ini
daripada aku. Melihat khimar yang menjulur menutupi lekak-lekuk tubuh membuat
mereka terlihat sangat anggun. Aku ingin selalu berada di sisi mereka,
pandangan yang teduh itu membuatku enggan memandang ke arah lain. Senyum dan
keramahannya bagaikan kelembutan sutera. Aku jadi penasaran, bagaimana selanjutnya
Ukm Bapinda membuat ukiran cerita dalam hidupku. Setelah kami dinobatkan
benar-benar menjadi kader Ukm Bapinda, kami dikelompokkan berdasarkan
masing-masing tutor (murobbi). Dialah yang akan memberikan pemahaman-pemahaman
kepada kami yang masih haus akan ilmu keislamana. Setiap minggu sekali kami
bertemu untuk liqo’. Mengkaji ilmu-ilmu Islam bersama-sama.
Menjadi bagian dari UKM Bapinda berarti menjadi bagian pula
di UKMF Hamas (Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas Himpunan Mahasiswa Syari’ah) karena
aku berada di fakultas syari’ah, jika fakultas tarbiyah, namanya Ibroh,
fakultas ushuluddin namanya Salam dan Fakultas Dakwah namanya Ababil. Aku
adalah orang yang aktif berorganisasi dimulai saat aku sedang duduk di bangku
sekolah. Tapi di Ukm Bapinda khususnya di Ukmf Hamas ini aku jarang sekali
berperan aktif, mungkin karena aku masih kader baru. Kadang aku iri dengan
mereka yang sama saja denganku; kader baru namun berperan aktif dalam suatu
agenda. Tak ada sama sekali pemberitahuan mengenai agenda tertentu padaku
padahal temanku selalu mendapatkan pemberitahuannya. Aku ini kader atau bukan
?? paling yang selalu setia memberikan informasi padaku adalah murobbi beserta
teman-teman liqo’ku. Mereka sangat luar biasa bagiku. Aku betah berada di organisasi
dakwah ini karena mereka.
Suatu waktu, temanku memberi tahukan mengenai struktur
kepanitiaan acara pelatihan kemediaan akbar ukmf Hamas dan namaku tercantum
sebagai sekretaris bidang perlengkapan. Setelah kuperhatikan, ternyata ada
kesalahan selama hampir saetengah periode ini. Nomor telepon yang tercantum
disana bukan nomor teleponku. Pada saat itulah aku sadar, astaghfirullaah
ternyata aku telah su’udzon dengan para pengurus ukmf hamas ini yang awalnya
berkata bahwa mereka tak pernah memberikan info padaku. Ternyata nomor yang
tercantum salah. Itu murni kesalahankuu karena nomor telepon yang aku berikan
saat itu sudah tak kupakai lagi. Semenjak kejadian itu aku memberitahukan
kepada mbak nurma (Sekretaris Ukmf hamas) untuk mengganti nomor teleponku. Dan
akhirnya semua yang terjadi kemarin tak pernah terulang; aku selalu mendapatkan
info beserta tausiyah yang dikirimkan tiap minggu.
Hari berlalu terasa sangat cepat, kepengurusan periode mbak
nurma sudah hampir usai dan akan digantikan dengan kader-kader yang lebih muda.
Akhirnya kak Aliyuddin terpilih menjadi ketua umum. Aku terbesit dalam hati,
jika memang harus memilih amanah, aku ingin menjadi ketua bidang keputrian, aku
akan mengadakan program kerja kebutuhan para wanita yang sering diabaikan. Atau
menjadi bagian dari bidang riset keilmuan, aku ingin menumbuhkan semangat
mahasiswa dalam bidang keilmuan. Berbagai macam program kerja sudah terbesit
dalam otakku. Namun terkadang, kenyataan tak sesuai dengan harapan. Aku
terpilih menjadi sekretaris umum. Amanah yang membuatku shock. Bagaimana ingin
menjadi sekretaris, melipat surat undangan acara MUA saja aku tak tau. Yaa
Allah jika memang ini jalanku, mampukanlah aku mengemban amanah ini.
Menjadi sekretaris umum, bagaikan menjadi ibu dalam suatu
organisasi yakni ukmf hamas. Aku harus bisa. Aku tak boleh mengecewakan mereka
yang sudah memilihku. Meski awalnya tidak paham. Aku selalu bertanya kepada
mereka yang sudah lebih paham bahkan kudatangi ke kosan mereka satu persatu
sembari diberikan motivasi dan nasehat oleh mereka. Sejak aku mengemban amanah
ini, aku merasakan betul aliran darah segarku ini benar-benar kucurahkan untuk
dakwah; tugas wajib setiap muslim di dunia. Melewati hari demi hari dengan
mereka yang berjihad di jalan Allah. Melihat semangat teman-teman presidium,
itu adalah semangatku. Mungkin jihad ini tak sepadan sulitnya dengan zaman
Rasul dan sahabat kala itu yang mencurahkan segalanya bahkan nyawa mereka demi
berdakwah menegakkan Islam dengan berperang. Namun aku merasakan jihad yang kami
lakukan sama sucinya niat berjihad ini dengan Rasul dan sahabat. Berangkat
lebih pagi dan pulang lebih sore dari mahasiswa yang lain untuk memikirkan
bagaimana caranya agar dakwah ini sampai ke hati penerimanya. Tapi itu tak ada
tandingannya dengan apa yang dilakukan orang terdahulu. Haru mata ini saat
membaca shiroh-shiroh para pembangun peradaban Islam. Tak terasa mata ini
mengalir tetesan embun yang kian waktu kian membanjiri pipi. Berada dalam jalan
dakwah ini haruslah memiliki keikhlasan yang tinggi, semangat memperjuangkan
dan rela berkorban.
Aku seraya mendapatkan asupan energi yang luar biasa saat melihat sahabat-shaabat fillaah
seperjuangan yang turut serta menghiasi perjalanan dakwah ini membangun ukmf
hamas. Sahabat-sahabat yang aku cintai karena Allah. mereka yang mampu menahan
lelah ketika yang lain berkeluh kesah. Mereka yang selalu memprioritaskan Allah
dalam keadaan apapun. Ketika yang lain terpana dengan dunia fana, mereka sibuk
dengan cinta Rabb-Nya. Melihat mereka yang sungguh luar biasa menambah kualitas
ruhiyahku. Karena melangkah bersama mereka menyadarkanku agar terus memperbaiki
diri dan meluruskan niatku karena Allah. Hamas menjadi bukti sejarah perjuangan
kami di jalan dakwah ini. Sampai pada akhirnya, Hamas tak dapat dipertahankan
lagi. Oleh birokrasi, nama Hamas disamakan dengan para pejuang Islam di
Palestina dan diindikasi unsur teroris. Apakah dakwah selalu disamakan dengan
teroris ? setengah periode kami berdakwah dengan nama Hamas dan kini kami
terpaksa merubah namanya dengan mengadakan musyawarah umum anggota luar biasa
bersama seluruh kader dakwah dikampus
beserta alumni. Akhirnya pada hari sabtu tanggal 16 April bertempat di
Aula Fakultas Syari’ah tepat pukul 11;37 WIB, HAMAS resmi berganti nama menjadi
GEMAIS yang memiliki kepanjangan Generasi Emas Mahasiswa Islam Syari’ah.
Harapan kami bersama, semoga nama baru ini tak menyurutkan sedikit pun semangat
kami untuk sama-sama berjuang di jalan Allah. Amanah kami tetap tertunaikan dan
semanta-mata mengharap ridhoNya. Itulah tujuan utama kami dari awal bersua.
Suka dan duka sudah biasa
Tapi ridhoNya tetaplah yang utama
Sahabat-sahabat fillahku,
Terima kasih atas kesediannya turut menemani
Dakwah ini terasa sulit saat aku sendiri
Namun bersama kalian, semua terasa mudah karena amal
jama’i
Tetaplah lantunkan rabithah sebagai pengikat
Antara aku, kalian dan Rabb kita
Aku mencintai kalian semata-mata karena Allah
(ditulis sehari-hari
saat mempersiapkan agenda dakwah
Dan diselesaikan di
rumah, sukabumi-bandarlampung
Jum’at 20 Mei 2016
pukul 12:29)



Komentar
Posting Komentar
Kritik dan saran sangat saya harapkan