PERKENALKAN, AKULAH SITI NURBAYA YANG BERUNTUNG ITU
Langit malam begitu cerah
memukau. Memanjakan mata bagi siapa saja yang memandangnya. Bintang gemintang
penuh cahaya memancarkan kerlipannya. Ini adalah waktu yang pas untuk menulis
impian-impian kecil di buku harian. Aku menuliskan banyak sekali impian yang
ingin kucapai kedepannya. Salah satunya aku ingin mengenyam pendidikan setinggi
mungkin. Aku ingin tau bagaimana rasanya duduk di bangku kuliah dan mendapatkan
gelar sarjana. Karna sejatinya tak banyak di desaku yang dapat mengenyam
pendidikan setinggi mungkin, apalagi perempuan. Paling tinggi pendidikan hanya
setingkat SLTP itupun masih jarang sekali, rata-rata banyak yang setingkat SD.
Bahkan ada yang belum lulus sekolah tetapi sudah dipaksa menikah. Maklum para
orang tua di desaku masih memiliki pola pikir yang konserfatif. “ngapain
repot-repot sekolah toh ujung-ujungnya ke dapur juga.” Ujar mereka.
Impian itu terus membayangi
langkahku. Maka dari itu aku selalu giat belajar dan mencetak prestasi di
sekolah. Aku termasuk siswi yang tak pernah absen dipilih oleh guru di sekolah
untuk mengikuti perlombaan, mulai dari olimpiade, qiro’ah, pidato dan lain
sebagainya. Dan aku bersyukur karna dari sekian banyak lomba yang aku ikuti aku
hampir selalu membuat bangga guru-guruku yaitu dengan membawa piala untuk
mereka. Semua guruku boleh bangga tapi tidak dengan…..
Pagi ini aku memberanikan diri
untuk mengatakan sesuatu kepada ayahku, beliau yang tampak sibuk dengan aritnya
sedang memangkas rumput.
“pak, sekarang kan ima sudah
lulus sekolah, ima pengen ngelanjutin sekolah ke tingkat selanjutnya pak, SLTP.
Boleh kan pak ?” ucapku memohon kepada bapak. Bapak menatapku dengan sinis dan
langsung pergi ke ladang tanpa memperhatikanku. Aku langsung lari ke kamar dengan
mata yang basah karna tetesan air jatuh dari pelupuk mata, melihat segala
impianku yang tertempel di dinding kamar. Apakah aku tak akan pernah sekolah
lagi ?
Bapak ibuku bukanlah orang yang
berpendidikan. Bahkan melihat aku berangkat atau pulang sekolah saja, seperti
aku melakukan kesalahan dihadapan mereka. Tapi aku mampu bertahan hingga aku
lulus sekolah dasar. Tiap kali aku ingin berangkat sekolah, ada saja yang
beliau perintahkan, seperti membantu mereka, membereskan rumah atau
pekerjaan-pekerjaan lain yang membuatku harus absen untuk pergi ke sekolah.
Sampai berkali-kali aku sembunyi dari mereka dan diam-diam pergi ke sekolah.
Aku jarang sekali mendapatkan uang saku dari orang tuaku. Uang yang biasa
diberikan itu sebanyak Rp. 25 (dua puluh lima rupiah). Ketika ibuku berbaik
hati memberikan uang padaku, aku bahagia sekali. Tetapi sebenarnya aku tak
pernah kekurangan uang karna setiap hari ada pemasukan walaupun orang tuaku
tidak memberikan uang saku, yaitu dari menjual kacang. Aku biasa menggoreng kacang
tiap malam, membungkusnya dan esoknya kujual kepada teman-teman di sekolah.
Lumayan dari harga kacang yang sebungkusnya Rp. 5 itu, aku memiliki tabungan.
Aku juga sering mendapatkan uang dari kakakku. Ia sering memberiku uang. Meski
kurasa kasih sayang bapak ibuku itu tidak adil padaku dan kakak, aku tetap
menyayangi mereka. Kakakku sangat didukung untuk sekolah dan selalu dibiayai
sedangkan aku, sepertinya bersekolah adalah bentuk pembangkanganku terhadap ibu
dan bapak. Karna wanita hanya tempatnya di dapur. Itu yang dipahami mereka.
Selang beberapa hari, bapak tak
juga merespon permintaanku untuk melanjutkan sekolah, malah bapak mengatakan
sesuatu yang membuatku sangat terkaget-kaget. “aku dijodohkan dengan lelaki
pilihan bapak” aku benar-benar hidup pada zaman Siti Nurbaya. Atau mungkin
akulah Siti Nurbaya itu ?
Aku menangis tiada henti di
kamar, berharap ada pertolongan Allah yang menyelinap masuk dan membebaskanku
dari segala masalah ini. Kugelar sajadah di waktu sepertiga malam. Kuhabiskan
malam itu dengan bermunajat kepada Allah. Aku ingin sekolah, aku belum siap
menikah, usiaku masih 14 tahun. Andai saja aku hidup di tahun 2000-an yang
mungkin zaman akan berubah. Hidup di era 80-an ini sangat menyiksaku. Seusai
sholat, aku melipat sajadah dan mengambil buku harian dilaci beserta penanya
dan kugoreskan tinta di tiap lembarnya,
Ayah ibu..
Kumohon mengertilah
Anakmu ini ingin berbakti
kepadamu dengan menjadi orang berilmu
Ayah ibu..
Izinkan aku menentukan pilihan
hidupku
Ridhoilah langkahku, karena
Ridho Allah terletak pada Ridho kalian.
Keesokan harinya, bapak
mempertermukanku dengan lelaki pilihannya dan dzzrrtt…. Ternyata dia kak Fatih,
kakak kelasku di Sekolah Dasar dulu. Dia terkenal sangat pintar di sekolah, aku
heran sekali ternyata dialah yang sering bapak ceritakan, anaknya soleh, baik
hati, berpendidikan, dan sopan santun. Aku menerima lamarannya sebagai bentuk
rasa hormat kepada orang tuaku. Dan dia mulai mengatakan sesuatu kepada orang
tuaku yang membuatku langsung sujud syukur.
“pak buk, saya akan menikahi Ima,
tapi saya ingin menyelesaikan studi saya dulu di Perguruan Tinggi, sembari Ima
menunggu, biarkan Ima mengejar impiannya dulu untuk melanjutkan sekolah. Jangan
pikirkan soal biaya, karna banyak sekolah yang ingin menerima siswi berprestasi
seperti Ima” ucap kak Fatih dengan penuh wibawa.
Sungguh dia benar-benar malaikat
yang Allah kirimkan untukku. Sepertinya dia tahu betul apa impianku. Padahal
sebelumnya aku tak begitu mengenalnya. Kenal hanya sebatas nama. Dengan berat
hati, bapak ibuku mengiyakan permintaan kak Fatih. Aku sangat bersyukur. Hari
terasa sangat indah sekali. Aku melanjutkan sekolah begitupun kak Fatih. Aku
harus memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya, belajar dengan keras
dan semakin berprestasi hingga bapak ibuku menyadari betapa pentingnya ilmu. Aku
berdo’a semoga kelak takkan ada lagi istilah “Siti Nurbaya” cukuplah aku yang
menjadi Siti Nurbaya yang diselamatkan oleh Allah untuk memperoleh
keberuntungan. Walaupun akhirnya harus menikah dengan kak Fatih, tapi aku yakin
dialah Jodoh dunia akhirat yang sudah Allah persiapkan khusus untukku.



Komentar
Posting Komentar
Kritik dan saran sangat saya harapkan