Kembali



Karena hijrah bukan hanya persoalan berubah. Dari pakaian pendek menjadi pakaian panjang. Namun lebih daripada itu bagaimana membuat Allah selalu memenangkan hati kita.

Desah angin menggeliat. Merasuk ke dalam pori-pori kulit tangan. Burung-burung terbang. Nampak semangat sekali untuk mencari penghidupan. Embun memabasahi rerumputan dan tanaman hias di pinggiran jalan. aku tidak sendirian menikmati pagi yang indah ini. Ada mereka di sekelilingku. Meski sibuk dengan aktifitas masing-masing. Ya, mereka berolahraga. Ada yang sekedar berjalan santai, berlari sampai yang bersepeda.

Setiap hari minggu pagi, kampusku ini selalu padat dengan pengunjung. Bukan hanya dari kalangan mahasiswa namun banyak keluarga yang datang kesana. Sekedar berolahraga atau menikmati keindahan kampus hijau ini. Terutama yang paling diminati adalah embung (baca: danau). Embung nampak seperti objek wisata bagi masyarakat. Karena keindahannya yang tiada tara.

 Pagi ini aku datang bukan untuk berolahraga atau menikmati embung seperti mereka. Seperti minggu-minggu sebelumnya, aku selalu menghabiskan minggu pagi untuk belajar tahsin al-Qur’an bersama mbak Rahma dan 5 teman lainnya di Musholla Fakultas Tarbiyah. Aku sangat bersyukur karena Allah menuntunku untuk selalu menghabiskan waktu dengan kegiatan yang bermanfaat. Bersama teman-teman lain yang selalu berlomba dalam kebaikan. Merekalah yang menjadi motivasiku.

Membaca al-Qur’an memang sudah menjadi kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah. Namun jika kita lihat, banyak sekali yang hanya bisa membacanya namun tidak baik bacaannya. Sebab tidak memperhatikan panjang pendek serta kurang tepatnya makharijul huruf yang diucapkan. Hal inilah yang mendorongku untuk terus berupaya memperbaiki bacaan al-Qur’anku.

“Zu kamu pulang sama siapa ? bareng yuk” sapa Atika saat aku membereskan buku serta al-Qur’an untuk dimasukkan ke dalam tas.

“sebenernya aku masih  mau ke kosan mbak Isti, aku mau ambil jilbab sama gamis pesenanku kemaren”.

“yaudah ayok sekalian aku anter”.

Beginilah saat kau bersama dengan orang-orang baik. Memiliki teman yang baik. Melakukan kegiatan yang baik. Maka hidupmu akan baik. Atika mengantarku ke kosan mbak Isti untuk mengambil gamis dan jilbab pesananku. Yah, mbak Isti, begitu ia disapa. Ia menjual berbagai macam kebutuhan para muslimah. Mulai dari gamis, handsock, jilbab, kaus kaki hingga jas hujan syar’i. Harga yang ditawarkan sangatlah terjangkau untuk anak kuliah sepertiku. Dan menjadi solusi terbaik bagi orang yang baru berhijrah sepertiku ini untuk membeli berbagai kebutuhan untuk berhijab.

Di tengah perjalanan, aku merasa ada yang aneh dengan gamis yang aku kenakan. Seperti ada yang menarik dari bawah. Aku segera menepuk pundak Atika yang sedang memboncengku dan memintanya untuk berhenti sejenak. Ternyata gamis bagian bawahku terlilit oleh jari-jari motor Atika. Beruntung Atika mengendarai motornya dengan pelan, hingga aku tak sempat jatuh ke aspal. Butuh waktu 10 menit untuk bisa melepas bagian gamisku yanag terlilit. Dan ketika berhasil dilepas, alhasil gamisku robek. Untung hanya bagian bawahnya saja. Oli di mana-mana. Aku segera meminta Atika untuk mengantarku ke kosan temanku, Hasiyah. Sebenarnya aku ada janji dengannya untuk membeli sepatu di Ramayana.

 Setibanya di kosan Hasiyah, aku meminjam gamisnya. Dan meletakkan gamisku ke dalam plastik yang di dalamnya juga berisi gamis dan jilbab yang baru kubeli di mbak Isti. Kami berdua naik ke dalam angkot untuk menuju Ramayana. Butuh waktu sekitar 25 menit untuk tiba di sana. Aku duduk tepat dibelakang supir dan meletakkan plastik yang barisi gamis serta jilbab di sebelah kananku.

“Zu.. awas nanti barangnya ketinggalan, mending dipegang aja” Hasiyah yang berada di sebelah kiriku berusaha mengingatkan. Yah, dia tahu betul bahwa aku ini orangnya pelupa namun aku menolak sarannya. Aku gak bakal lupa.

Angkot berhenti di jalanan Pasar Tengah. Kami harus menyeberang jalanan besar untuk sampai ke Ramayana. Hasiyah membayarkan ongkos angkotku. Dan kami berdua pun turun dari angkot kemudian bergegas berjalan menuju Ramayana. Hingga aku merasa ada yang aneh. Sempurna, satu kantong plastik yang berisi gamis serta jilbabku tertinggal di angkot. Aku langsung panik dan mencoba mengejar angkot yang membawa kami tadi. Angkotnya masih terlihat sekejap sebelum ia melesat kencang berbelok kanan meninggalkan jalanan pasar tengah. Raut mukaku amatlah panik begitupun juga Hasiyah. Tanpa berpikir panjang, aku berlari ke kerumunan tukang ojek di pinggiran sebelah kiri jalan. aku memohon-mohon salah satu mereka ada yang bisa membantuku untuk mengejar angkot tersebut. Karena aku masih sangat hapal dengan angkot yang membawaku tadi.

Bersyukur ada satu kakek yang amat kasihan padaku dan bersedia mengantarku untuk mengejar angkot. Hasiyah yang merasa kelelahan mengejarku tertinggal di belakang. Aku memintanya untuk menunggu di depan Ramayana. Dan aku melesat bersama kakek tukang ojek untuk melakukan pencarian.
Aku meminta kakek tersebut untuk melewati jalan yang dilewati angkot tadi. Puluhan angkot yang hilir mudik menghiasi jalan. Namun tak satupun angkot yang kutemui seperti angkot yang membawaku tadi. Aku meminta kakek untuk terus berjalan sampai aku menemukan angkot tersebut.

“dek kita ini udah jauh banget, mau sampek mana ?”

“terus jalan aja kek” jawabku memohon.

Saking jauhnya aku dan kakek mengejar angkot, tanpa disadari perjalanan kami sudah hampir sampai ke kosan Hasiyah, tempat aku naik angkot tadi.  Dan sial, aku tak menemukan angkot itu. Aku mulai pasrah dan sangat gelisah. Dengan terpaksa aku meminta kakek untuk kembali ke Ramayana.

“terima kasih ya kek sudah mau nganterin saya, berapa ongkosnya kek?”

“sudah dek,  gausah. Toh barangnya juga kan gak bisa ketemu”.

“loh jangan begitu kek, kita udah jalan jauh banget, berapa ongkosnya kek ?

Kakek itu tersenyum dan kembali memarkirkan motor berkata tidak usah. Aku sangat berterima kasih pada kakek tukang ojek itu, niatnya tulus ingin membantu. Tanpa mengharapkan imbalan apapun. Tapi profesinya kan tukang ojek, kenapa ia tidak mau uang dariku ? aah semoga Allah yang membalas kebaikannya.

Aku mendapati Hasiyah di depan Ramayana. Ia tampak bertanya-tanya apakah plastik itu berhasil kutemukan atau tidak. Dan raut wajahku sudah menjawab segala pertanyaannya. Amat kacau, sedih, kecewa dan segala macamnya.

“sabar yaa..” ucap Hasiyah.

Aku hanya diam tak merespon apapun. Mengikutinya berjalan dari belakang menuju lantai 2 Ramayana. Bergegas menuju tujuan awalku datang kesini. Membeli sepatu. Puluhan kali kami berputar-putar di tempat sepatu namun tak kutemukan satupun yang cocok denganku. Aku hanya diam. Merasa tak tertarik dengan setiap sepatu yang Hasiyah pilihkan padaku. Ragaku di sini. Namun pikiranku tetap terpusat pada barangku yang ketinggalan.

Hasiyah tak pernah lelah mencoba menghiburku. Memilihkan sepatu-sepatu yang cocok denganku. Tapi aku tak sedikitpun selera menanggapinya. Aku teramat sedih. Gamis dan jilbab itu. Aku masih dalam proses berhjrah. Menabung untuk membeli pakaian yang syar’i tapi tiba-tiba barang itu hilang. Aku sedih sekali.

Hasiyah langsung menarik lenganku ke bawah Ramayana. Aku bertanya-tanya khawatir ia marah dengan sikapku tadi saat ia memilihkan sepatu untukku. Ia mengajakku ke tempat yang sangat ramai oleh pengunjung. Itu warung batagor. Penjualnya tampak kewalahan melayani pembeli yang membludak. Beruntung masih tersisa dua kursi kosong untuk aku dan hasiyah duduk. Hasiyah langsung memesan 2 porsi batagor untuk aku dan dirinya.

“makan dulu yaa. Biar konsentrasi. Kamu pasti laper kan ?”

Aku memang belum sarapan tadi pagi karena aku harus belajar tahsin dulu sepagi tadi. Hingga tak sempat untuk menyiapkan makanan untuk sarapan.

“sabar yaa.. aku tau apa yang kamu rasain sekarang. Pasti sedih banget. Aku juga pernah ngerasain hal yang sama. Dompetku pernah hilang. Berikut ATM, buku rekening, uang, KTP dan sebagainya. Butuh waktu yang lama memang untuk menyembuhkan perasaan sedih itu. Kehilangan memang sesuatu yang menyakitkan.”

Hasiyah mengehela napas sejenak dan kembali melanjutkan kalimatnya.

“tapi yang perlu kau ingat, jika itu memang rezekimu, memang takdirmu untuk memilikinya, pasti ia akan kembali padamu. Sederhanakan saja perasaan ini. Yang memberikan itu Allah dan yang menghilangkan juga Allah. Serahkan jaga sama Allah. Jika ia memang milikmu, ia pasti akan kembali padamu.”

Kalimat terakhir Hasiyah sempurna membuatku setengah membaik. Dan mencoba untuk memasrahkan segalanya pada Allah. Aah aku sedih sekali. Ternyata, aku belum sepenuhnya hijrah di jalan Allah. Saat diberikan ujian sedikit saja, aku terlampau sedih dengan keadaan tanpa memikirkan segala bentuk kejadian memanglah murni atas kehendakNya. Astaghfirullah...

Setelah kenyang makan batagor yang super enak itu, kami berdua langsung kembali ke lantai atas untuk membeli sepatu. Dan beruntung, aku segera mendapatkan sepatu yang amat sesuai dengan seleraku dan menurut Hasiyah juga cukup bagus. Kudapatkan sepatu dengan merk Yongki Komaladi dengan harga asal Rp. 599.000,- tapi karena diskon berubah menjadi Rp. 149.900,-. Alhamdulilllah..

Waktu sudah cukup siang. Aku sudah mendapatkan sepatu yang menjadi tujuanku datang ke Ramayana. Kami berdua langsung bergegas pulang. Lelah sekali rasanya. Kecewa itu masihlah tetap ada tapi kucoba meyakinkan diri, kupasrahkan segalanya pada Allah. Semua akan baik-baik saja.

Kunikmati desahan angin yang masuk menyelinap lewat kaca angkot yang terbuka. Sambil memejamkan mata kuucapkan istighfar sampai tiba aku di depan rumah. Aku turun lebih dulu daripada Hasiyah. Karena kosan Hasiyah lebih jauh jika dibandingkan dengan rumahku. Kuucapkan terima kasih padanya. Sambil melambaikan tangan. Terima kasih Hasiyah sudah memberikan pemahaman yang baik itu padaku.

Setibanya di rumah aku langsung mengambil wudhu’ dan beranjak untuk sholat dzuhur. Berdo’a pada Allah agar Dia menjadikanku orang yang selalu tawakkal kepadaNya. Aku ingin berhijrah tidak hanya pakaian, namun juga pemahamanku mengenai iman kepadaNya. Keadaan hari ini membuatku amat sangat lelah. Dan tidur menjadi obat terbaik untuk menghapus kesedihan juga menghilangkan penat di badan.
Aku terbangun oleh dering Hp yang menandakan ada SMS masuk. Itu dari Hasiyah. Aku tak menyangka dengan isi pesannya. Aku sangatlah terkejut. Seakan antara percaya dan tidak. Yang jelas aku sangatlah bahagia. Dan kembali bersyukur kepada Allah. Keimananku seakan baru dicharge dan full. Alhamdulillah. Semua ini kembali meyakinkanku bahwa tidak ada yang tidak mungkin dalam kuasaNya. Jika ia ditakdirkan untuk menjadi milikmu, pasti ia akan kembali padamu.

Isi pesannya, “angkotnya udah ketemu, tadi sempet berhenti di depan gang kosanku. Dan alhamdulillah barangnya masih ada. Besok aku bawa ya di kampus”.
♦♦♦

“Jadi, untukmu para muslimah di seluruh dunia, menangkan Allah dalam setiap aktifitasmu. Ingatlah, iman itu tidak bergerak statis. Ia bisa melonjak naik, bisa pula turun secara drastis. Tugas kita adalah mengechargenya kembali. Hijrah itu bukan hanya berubah dari segi penampilanmu saja. Bukan hanya berubah dalam segi jumlah ibadahmu saja. Namun, lebih daripada itu, hijrah itu berjalan menuju Allah. Dasarkan segala niat dan perbuatan itu hanya kepada Allah. Agar perasaan sedih, kecewa, gundah dan gulana tidak menyeretmu melupakan nikmatNya bahkan justru menarikmu untuk terus mensyukuriNya. Karena segala apapun yang terjadi itu adalah yang terbaik. Terbaik menurut kehendakNya.”




Komentar

Popular Posts