CAHAYA ITU BERNAMA “HIJRAH”


Siti Zubaidah,
Tak ada arti yang spesifik dari nama itu
Yang jelas, setelah memakai nama itu
Aku menjadi perempuan yang sudah tak sakit-sakitan lagi
Pastinya orang tuaku menginginkan agar aku menjadi perempuan yang kuat
Dalam menghadapi segala macam ujian hidup yang dianugerahkan Allah

Trend Fashion Masa Kini..
Celana jeans berwarna coklat dengan ikat pinggang, kaos oblong dilengkapi kemeja panjang kotak-kotak yang lengannya ditekuk ¾, khimar segi empat tipis (paris) berwarna merah jambu, sepatu selop batik. Ku ambil tas selempamg dengan kamus yang cukup tebal, aku sudah siap untuk pergi kursus bahasa Inggris siang itu.
Seperti biasa hanya sedikit yang datang kursus kala itu. Mungkin karena teriknya matahari yang sangat menyengat sampai ke ubun-ubun sehingga membuat teman yang lain malas untuk datang. Tapi panasnya tak menyurutkan semangat kami berlima untuk datang memperdalam ilmu kebahasaan yakni bahasa Inggris. Seperti biasa sebelum guru lesku datang, kami selalu bercakap-cakap dalam bahasa Inggris untuk melatih conversation kami. Akhirnya guru kami datang, dan pelajaran dimulai. Setelah pelajaran berakhir guruku menawarkan “Any Questions ?” dan aku selalu menyimpan segudang pertanyaan di buku catatanku untuk kutanyakan pada guruku. 

Pembawa Hidayah..
Guru lesku adalah orang yang luar biasa. Namanya  Mr. Fais Sabri. Menjabat sebagai Kepala Sekolah, guru les bahasa Inggris juga seorang bapak yang sangat menginspirasi . Kemampuan bahasa Inggrisnya tak diragukan lagi, motivasi tentang Islam yang selalu mampu menarik hati karena kedalaman agama yang selalu ia bagi. Namun di sekolah, sosoknya sangat ditakuti oleh para siswa. Karena ketegasan dan kewibawaannya yang mampu membuat para siswa di sekolah diam seribu bahasa saat pak fais mengajar. Di tengah ketakutan teman-temanku padanya, aku berbeda dari mereka; aku mengidolakannya. Ditengah anak-anak yang segan dan takut saat berhadapan dengannya, aku memilih untuk mengobrol dengannya karena dalam obrolan itu pasti ada sesuatu yang sangat bermanfaat. Aku memandang sosoknya sangat sempurna meskipun kesempurnaan hanyalah milik Allah tapi that’s the point ! sungguh Mahasempurna Allah yang menciptakan sosoknya. Sederhana, banyak tau, wibawa, sangat ke-bapak-an, inspiratif, sangat paham agama, cerdas ….. dan masih banyak lagi. Itu yang mampu kulukiskan tentang dirinya meskipun kenyataannya akan lebih dari itu. Karena aku sangat mengidolakannya, aku memiliki impian untuk bisa menjadi siswi kebanggannya. itu terbukti saat aku diajukan olehnya untuk tergabung dalam OSIS dan dicanangkan sebagai calon ketua. Tapi sayangnya aku hanya terpilih menjadi sekretari OSIS karena aku berada di peringkat kedua suara terbanyak. untuk menjadi siswi kebanggannya aku berpikir harus menyumbangkan piala ke sekolah itu artinya aku harus menjuarai suatu lomba. Tetapi saat menyadari aku selalu kalah saat mengikuti lomba, karena biasanya aku dipilih oleh guru bahasa Arab untuk mengikuti lomba bahasa Arab. Namun aku berpikir aku harus memilih lomba itu sendiri tanpa harus dipilih oleh guruku; aku ikut lomba bahasa Inggris “News Reading Competition” aku mewakili sekolah mengikuti lomba itu dan akhirnya … segala puji bagi Allah aku berhasil mendapatkan piala juara pertama. Impianku terkabul, untuk membuatnya bangga. Namun, akupun pernah membuatnya kecewa atas kelakuanku. Saat itu, temanku ada yang berulang tahun dan teman-temanku berinisiatif untuk menyiramnya dengan tepung, telur, kopeki, dan sebagainya. Niatnya kami akan menyiramnya di lapangan dekat sekolah, tapi entah apa yang terjadi tepung itu tumpah ke kepala temanku saat di kelas jam pulang sekolah. Kegaduhan pun dimulai. Telur, kopi dan lain-lain sudah melekat di badannya. Kami saling kejar-kejaran. Otomatis itu mengganngu kelas sebelah yang masih ada jam pelajaran. Mengetahui hal itu, kepala sekolah; pak Fais memanggilku dengan raut wajah yang merah padam. Dia mengatakan bahwa dia sangat kecewa atas kelakuan teman-teman di kelasku yang bertingkah seolah-olah orang jahiliyah. Ulang tahun itu diperingati dengan membaca do’a bersama bukannya membuang-buang bahan makanan. Dia mengatakan, mengapa aku membiarkan kejadian ini berlangsung. Padahal faktanya, aku termasuk orang yang memiliki inisiatif untuk menyiramnya. Tuhan, aku sangat menyesal.. aku menjadikan momen kelas sepuluh itu sebagai pendewasaan diri.

Pertanyaan sekilas namun membekas..
Aku mengajukan banyak pertanyaan saat itu, mengenai pelajaran bahasa inggris, juga hal lain, seperti hukum-hukum Islam, tentang mimpi dan apapun. Kami boleh mengajukan pertanyaan apa saja padanya saat les berakhir sore itu. Dia menjawabnya dengan lugas dan sangat baik. Teman-teman lesku juga banyak yang mengajukan pertanyaan. Ketika sudah tidak ada pertanyaan, pak Fais berbalik bertanya kepada kami, khususnya yang perempuan.
“apakah yang disini semuanya memakai jilbab kalau dirumah ?”
Kami serempak menggeleng, karena kenyataannya hanya saat keluar rumah kami memakai jilbab karena memang sekolah kami bernotaben Islam yakni, aliyah. Tapi soal di dalam rumah, toh hanya keluarga ya kami tidak memakai jilbab. Jujur, untuk menyapu halamanpun aku tidak memakai jilbab. Namun saat membeli sesuatu ditoko yang sedikit jauh dari rumah baru aku memakai jilbab. Untuk sekitar rumah, tidak.
Pak fais meneruskan kalimatnya..
“kalau kenyataanya hanya saat keluar rumah kalian memakai jilbab, itu artinya kalian hanya malu aurat kalian dilihat oleh manusia. Padahal Allah itu selalu ada mengiringi langkah kita. Maka seharusnya, terlihat atau tidakpun oleh manusia, kita harus menutup aurat. Apakah kalian tidak malu pada Allah ?”
Jlebb….
Aku terbesit dalam hati, yaa Allah sungguh selama ini aku berada dalam ruang kesesatan, aku berjanji saat aku pulang dari sini, setibanya di rumah aku tidak akan melepas jilbab ini.
Memang benar, dalam hadis pun dijelaskan mengenai sifat malu yang berbunyi:
Dari Ya’la ra, bahwa Rasulullah SAW melihat seorang laki-laki mandi di tanah lapang tanpa memakai sarung. Kemudian beliau naik mimbar, lalu memuji Allah dan bersabda. “sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla Maha Pemalu dan Tertutup, Dia menyukai sifat malu dan tertutup. Apabila salah seorang di antara kalian mandi, maka hendaknya ia menutupi dirinya.”
Aku kembali berbesit dalam hati, untuk mandipun kita diwajibkan untuk menutup diri sedangkan aku selama ini ? aku biarkan aurat yang sejatinya haram dilihat oleh orang lain mengumbar tanpa terpikir dosa astaghfirullah..
Sepulangnya dari les bahasa Inggris, aku mengikrarkan diriku untuk tak pernah melepasnya lagi aku bercermin dengan penuh keyakinan aku mengucapkan basmalah semoga Allah selalu melindungi diriku dan jilbabku.

Terima Kasih Penyempurna Hijrahku
Bagi orang yang pertama kali hijrah tidaklah mudah. Untuk seseorang yang sedang dalam proses perubahan menuju baik pasti ada tantangan tersendiri. Seperti aku misalnya. Sore itu setelah aku mengikrarkan diri untuk terus memakai jilbab, aku keluar untuk menyapu halaman rumah seperti biasa. Semua orang seisi rumah kaget melihatku. Banyak yang bertanya “kenapa pakek jilbab ?, mau kemana kok pakek jilbab ?, nyapu kok pakek jilbab !, dan lain sebagainya.” Ada rasa malu sebenarnya tapi aku mengacuhkannya. Mungkin mereka belum terbiasa melihatku seperti ini. Setelah biasa, mungkin pertanyaan ini tak akan muncul lagi. Selepas menyapu, aku membuka lemari pakaianku dan kuambil semua celana yang biasa aku pakai mulai dari yang pendek sampai yang panjang. Mau pergi kemanapun, mulai sekarang aku harus pakai rok dan mulai menabung untuk membeli banyak gamis dan aku juga sangat berkeinginan untuk membeli jilbab yang lebar karena yang aku gunakan masih jilbab yang tipis. Sejak saat itu, aku semakin rajin mengerjakan puasa sunnah, solat malam dan dhuha tak pernah aku tinggalkan. Aku juga mulai menyampaikan kepentingan berhijab kepada teman-teman kelasku. Sampai pada akhirnya ulang tahunku tiba, sahabatku memberikan sesuatu yang kusebut penyempurna hijrahku. Keudung lebar berwarna abu-abu. Itu adalah jilbab syar’I pertama yang aku miliki. Terima kasih Ririn Ninawati, orang yang sangat paham apa keinginanku, orang yang ikut berupaya berhijrah bersama denganku, orang yang selalu minta ingatkan jika ia berbuat salah. Ririn, akupun masih banyak salah.

Pelengkap Hijrahku..
Aku melanjutkan studiku ke Bandarlampung jadi aku berhijrah dari Madura ke Bandarlampung, mengapa aku memilih Bandarlampung ? semua sudah tertulis secara jelas di blogku dan aku tidak ingin menceritakaannya disini hihi.
Awal masuk kampus hijau ini, setiap Mahasiswa Baru wajib mengikuti kuliah ta’aruf disana kami diperkenalkan keadaan kampus serta ukm-ukm yang ada di kampus ini, diharapkan setiap mahasiswa dapat memilih organisasi sebagai penunjang kualitas diri. Setiap ukm yang ditampilkan nyaris aku ingin mengikuti semuanya. Seperti contoh, Ukm Lpm; aku hobi menulis, ukm hiqma; aku ingin menjadi qori’ah, ukm maharipal; aku senang jalan-jalan, ukm blitz; aku suka dunia pemotretan, ukm pramuka; mengingatkanku pada masa SMA, dan lain-lain. Sampai pada akhirnya penampilan terakhir … UKM BAPINDA; LDK kampus yang terkenal mampu menghipnotis para mahasiswa baru untuk bergabung di dalamnya. Dan sejujurnya, aku benar-benar terhipnotis oleh Bapinda. Gemuruh takbir yang memecah GSG pun memecahkan lorong hatiku untuk bergabung di dalamnya, yah aku jatuh hati dengan bapinda. Kini, sudah hampir 2 tahun aku berada di Bapinda. Mengenal mereka yang ada di dalamnya membuatku terus bermuahasabah setiap harinya, saling mengingatkan, merajut ukhuwah bersama, dan hatiku nyaris tak kering siraman rohani setiap harinya, bergabung disini menyadarkanku bahwa hidup ini bukan hanya di dunia, namun akhirat lebih utama. Bukan hanya keagamaan, namun skill lainnya bisa diasah disini, menulis misalnya, public speaking misalnya dan lain sebagainya. Mengerti arti perjuangan yang sesungguhnya saat  lelah terbayar oleh lillaah. Terima Kasih BAPINDA #SatuHatiBangunNegeri Allaahu Akbar !!

Komentar

Popular Posts