Pergi


Malam ini, aku merasa ada yang beda entah mengapa rasanya aku kehilangan sesuatu tapi apa ?   kucoba untuk memejamkan mata sejenak, beristirahat dari tugas kuliah yang harus aku selesaikan dan.... aku menemukan satu titik cahaya dalam kegelapan. Terkadang kita memang harus mersakan kegelapan untuk menemukan secercah cahaya terang. Saat kuterpejam, aku melihat bahwa aku menemukan sesuatu yang aku rindukan yang telah lama tak kulakukan, sebuah hobi yang menyenangkan. Aku beranjak dari tempat tidur dan kuambil buku diary hadiah dari sahabatku ketika SMA. Disanalah aku mengabadikan perjalanan hidupku, mulai dari yang putih hingga yang hitam. Kubuka lembar perlembarnya dan aku menemukan sebuah puisi tanpa judul disana dengan gaya tulisan yang bagai sedang ada gempa, yakni terombang-ambing. Ingatanku mulai tertuju pada suatu waktu, 07 juli 2014.....

Bagi anak SMA yang dinobatkan dengan kata LULUS, pasti akan menjadi dilema besar. Bukan karena kelulusannya tapi kemana ia akan melanjutkan tujuannya. Begitupun aku yang selalu dihantui oleh banyak universitas dan bahkan aku sendiri masih bingung mana yang akan aku ambil. Aku selalu berdiskusi dengan orang-orang terdekat untuk menentukan universitas serta jurusan yang cocok denganku. Aku menyukai pelajaran bahasa inggris, dan aku ingin sekali mengambil jurusan sastra inggris karena pada saat itu aku bercita-cita menulis novel dengan bahasa inggris. Sehingga menurut guru bahasa inggrisku, Malang mungkin cocok denganku karna beliau adalah lulusan disana. Menurut beliau, Malang adalah kota yang asri, polusi tak mengganggu, banyak orang sukses yang terlahir dari sana, namun suhu udaranya yang mungkin tak bersahabat. Pilihan kedua adalah Surabaya, selain dekat, sepupuku kuliah disana dan tidak menyewa kamar kos karna jarak yang tak terlalu jauh untuk ditempuh Madura-Surabaya. Berkat Suramadu semuanya menjadi mudah. Pilihan ketiga adalah Jombang. Aku pun memiliki sepupu yang melanjutkan studi menengah pertamanya dengan mondok disana. Selain itu, aku pernah berkunjung kesana saat aku mengikuti Jambore Nasional yang saat itu melakukan kunjungan kesana. Dan pilihan terakhir adalah Bandarlampung. Pilihan terakhir ini adalah pilihan yang memang tak ada niatan untuk dijadikan sebagai pilihan. Itu hanya my parents-recommended.

Tiap malam aku rajin melakukan solat istikharah agar apapun yang kupilih diridhoi oleh Allah. Setelah beberapa malam aku solat untuk menentukan pilihan, ternyata Malang tidak baik untukku. Aku berdo’a semoga ini memang jawaban dariNya atas kerisauan hatiku. Setelah beberapa hari tak juga kutemukan hasil maka aku mencoba mendaftar di universitas di Surabaya dengan keyakinan jika aku tidak lolos maka itu bukan jalanku. Sembari menunggu hasil, aku ditawarkan oleh orangtuaku untuk melanjutkan studiku di Bandarlampung, kota dimana kuhabiskan masa kanak-kanak hingga kelas 4 SD dan pindah ke Madura, pulau kelahiranku hingga aku besar ini dan aku harus melanjutkan studiku disana ? terasa mimpi bagiku kembali ke pulau Sumatera dan itu tak pernah terbayang dalam benakku karena aku sama sekali tak berniat untuk kembali kesana lagi.

Hari berlalu.. timbul satu pilihan lagi, yakni Jombang. Omku menawarkanku untuk mengambil kuliah perawat disana. Aku menanggapinya dengan kesan positif karena sebenarnya cita-cita masa kecilku adalah menjadi seorang dokter. Orang tuaku juga menyetujuinya. Aku juga tau universitas yang ditunjuk omku itu karena aku pernah kesana saat aku mengikuti Jambore Nasional dan bertempat di Jombang. Saat itu, kami diajak untuk menulusuri tempat-tempat bersejarah yang dibangun oleh para pemuka NU di Indonesia pada abad lalu dan salah satunya di Universitas itu. Tetapi hari demi hari, semua berubah pilihan-pilihan itu seakan tiada artinya dan sepertinya memang tidak ada pilihan selain di Lampung. Orang tua dan keluargaku terlalu khawatir jika aku jauh dari pantauan mereka. Siapa yang akan memperhatikan kesehatanku jika aku jauh. Padahal aku ingin membuktikan pada mereka bahwa aku bisa hidup sendiri.

Mungkin kau bertanya mengapa aku tidak melanjutkan studiku di Madura saja ?  aku hidup bersama keluarga besarku disana jadi semua urusan akan selesai. Tapi tidak untukku. Dari SD hingga SMA aku mengenyam pendidikan disana. Dan jarak dari rumah ke sekolah sangatlah dekat. Kau tahu ? rumahku berada tepat dibelakang sekolahku. Dekat bukan ? yah dulu neneklah yang menjadi hambatanku untuk sekolah jauh dan sangat khawatir jika aku naik angkot ataupun membawa motor sendiri. Jadi aku sekolah di sekolahan Omku. Kebetulan omku adalah kepala sekolah disana dan guru-guru disana pun nampaknya kebanyakan keluargaku. Tapi ya aku terima saja meski tak sesuai dengan keinginan awal. So, aku mencari perguruan tinggi yang jauh karena itu salah satunya. Aku tidak pernah keluar dari daerahku aku selalu mengenyam pendidikan di tempat yang relatif sangat dekat dengan jangkauan mata. Juga, aku ingat pada sepenggal perkataan Imam Syafi’i,
Merantaulah..
Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah
Ke negeri orang

Aku berkeyakinan jika aku tetap disana, aku akan bergerak namun statis. Aku berkeyakina, jika aku menjadi anak rantauan, aku akan mendapatkan banyak ilmu yang kudapat dari orang yang berbeda-beda.
Menjelang pengumuman SNMPTN, orang tuaku terus menelpon agar aku mendaftar online di perguruan tinggi di Bandarlampung. Pikiranku amatlah sangat rumit saat itu. Seakan-akan harapanku dihilangkan begitu saja. Semua keluargaku melerakan dan mendukung jika aku melanjutkan sekolah disana tetapi beberapa dari mereka merasa berat jika aku harus meninggalkan mereka dan beberapa juga ada yang tidak setuju tapi aku ingat perkataan salah satu omku, “gausah bingung-bingung, ridho Allah fii ridho walidain, beruntunglah kamu karena Allah mengujimu dengan pilihan itu sekarang yang anggap saja kau hendak mendaki gunung daripda ujiannya nanti pas kamu sudah di atas dan ada penyesalan disana”. Ucapan yang singkat namun cukup memberi keyakinan dalam hatiku. Yahh, ridho Allah berada dalam ridho orang tua, itu yang menjadi kekuatanku saat itu.

Hari itu saat aku melihat pengumuman, ternyata aku gagal untuk masuk ke Universitas Surabaya. Saat itu entah kenapa aku bahagia rasanya tak ada beban lagi karena aku merasa berarti takdir menentukan bahwa aku harus mengikuti orang tuaku yakni di Lampung. Kembali pada keyakinan awal, jika aku gagal SNMPTN, berati jalanku memang di Lampung. Dan hebatnya itu terealisasikan.
06 juli 2014..

Hari dimana aku beranjak meninggalkan orang-orang yang kusayang untuk  menuntut ilmu di kota gajah itu. Keluarga besarku, sahabat terbaikku, guru-guru tercintaku dan murid-murid yang selalu mengembalikan semangat belajarku. Sedih sekali rasanya seperti mimpi buruk yang menjadi nyata. Ketika aku pergi meninggalkan sahabat-sahabatku tak satupun ku kabari dengan mengirim sms hingga mereka semua bertanya-tanya apakah aku sudah berangkat atau belum. Mereka mengucapkan salam perpisahan padaku lewat pesan yang mereka kirim dan satupun aku balas smsnya dan juga mengabaikan telpon mereka karena aku sudah cukup sedih apalagi mendengar suara tangisan mereka karena aku akan pergi jauh, sakit sekali rasanya. Ketika keberangkatanku rumah tampak sepi dari biasanya. Aku hanya berpamitan pada beberapa orang dikeluargaku dengan tangis tiada henti. Sebagian dari mereka ternyata bersembunyi dengan mengunci pintu karena tidak tega melihat aku meninggalkan mereka, juga ada yang mencari kesibukan lain di luar bermaksud agar tidak ingat bahwa hari itu adalah keberangkatanku. Isak tangis yang luar biasa telah mewarnai hari itu saat aku mulai bersaliman dan juga berpamitan pada mereka semua.
Perjalanan Madura-Lampung merupakan perjalanan yang sangat menyedihkan, tangisan mewarnai perjalananku bagai rinai hujan yang tak kunjung berhenti. Kuharap dapat menciptakan pelangi kelak saat aku kembali kesana. Dan saat itu, mimpi terbesarku adalah, membuka mata di kota kelahiranku itu. Bergegas kuambil buku kecil beserta alat tulisnya. Kucoba mengabadikan momen-momen sedih itu. Lahirlah sajak ini..

Hari ini aku tersadar
Bahwa aku benar-benar terbawa oleh arus ombak
Menyebrangi lautan untuk sampai pada sebuah pulau
Lama sekali rasanya melihat buih-buih
Yang nampak bergerak sama
Nyatanya hanya sejengkal dalam peta Indonesia.

07-Juli-2014

Komentar

Popular Posts